Sabtu, 11 Mei 2013

Batavia dan VOC: Titik Awal Globalisasi



Saya terkejut ketika keponakan saya, Alya - 6 tahun, yang tinggal di pinggiran kota Pontianak meminta saya membelikan poster seukuran manusia dari penyanyi tampan asal Canada - Justin Bieber. Saya terkejut tidak hanya pada permintaan Alya, tapi juga pada fakta bahwa globalisasi telah menjangkau daerah-daerah pinggiran. Saya setuju dengan Thomas L. Friedman, pengarang buku The World is flat, bahwa dunia semakin hari semakin flat, bahwa manusia di seluruh dunia akan semakin terhubung. Tapi menerima permintaan keponakan saya tadi, saya masih belum percaya bahwa globalisasi telah begitu dahsyat menjalar.


Selain cepatnya kemajuan infrastuktur dan teknologi, munculnya perusahaan multinasional adalah penggerak utama merebaknya globalisasi(1). Merek perusahaan multinasional seperti McDonald, Coca-cola, Nokia, Phillips dan lainnya, kini mudah ditemui di seluruh penjuru dunia. Tidak hanya mempengaruhi budaya – seperti permintaan Alya, perusahaan-perusahaan multinasional ini juga memberikan sumbangsih dalam bidang ekonomi bagi negara dimana mereka beroperasi. Dari 100 entiti ekonomi terbesar dunia, 53 di antaranya adalah perusahaan multinasional. Yang mengejutkan, kekayaan perusahaan-perusahaan tersebut melebih kekayaan dari 120 negara di dunia(1).


 



Lalu kapan dan apa nama perusahaan multinasional yang pertama berdiri?  Semua orang Indonesia pasti sudah kenal dengan nama perusahaan ini. Ko bisa? Perusahaan ini berdiri di Indonesia berabad tahun lalu. Ia dikenal masyarakat dengan isilah kompeni, atau compagie dari nama lengkapnya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau The Dutch East India Company. VOC didirikan oleh para pedagang Belanda dengan bantuan ide Dutch State General Johan Van Oldebarnevelt pada tanggal 20 Maret 1602. Dalam perjalanannya, VOC adalah perusahaan dengan multi-etnis pegawai dengan kantor pusatnya di Jakarta (Batavia saat itu) dan Ceylon (Sri Lanka saat ini). Dibangun untuk melindungi monopoli atas hasil bumi Asia dari serangan Portugis dan Spanyol, modal awal VOC adalah modal patungan sebesar sebesar 6.5 juta dutch guilders(2).

VOC saat itu merupakan megacorporation yang pertama kali mengeluarkan saham dan memberikan dividen sebesar 18% per tahun selama 200 tahun(3). Praktek ini masih terus diterapkan oleh perusahaan modern saat ini karena manfaat yang dihasilkannya. Pelepasan saham ke masyarakat umum, atau dikenal dengan istilah Initial Public Offering (IPO) diyakini dapat membantu membangun struktur keuangan dan permodalan yang sehat buat perusahaan, meningkatkan transparansi, produktifitas, dan professionalisme pegawai dan manajemen(4).


Mungkin kita diwarisi ketidaksukaan pada kata kompeni, tapi tanpa sang kompeni mungkin dunia belum tentu mengalami globalisasi seperti saat ini. Terlepas dari pengaruh buruk globalisasi, kita atau setidaknya saya sebenarnya sedang menikmati dampak globalisasi. Saat ini saya sedang berada di depan komputer jinjing bermerek Lenovo buatan China, di sampingnya ada printer Hewlett Packard buatan Amerika, lampu penerang merek Phillips buatan Belanda, dan Blackberry dari Kanada. Globalisasi membuat hidup saya nyaman, tapi tidak merubah sesuatu di dalam diri saya – hati saya selalu dan akan selalu berlabel Indonesia.



Referensi:
3.       Friedman, T. (2005). The World is Flat, A Brief History of The Globalized World in The 21st Century.  New York

Minggu, 04 Desember 2011

Aku, Cinta, Kamu

Aku mencintai kamu, tapi kamu cuma mencintai kamu. Jadi kapan kita bisa menyatu?

Sejak aku mengenal kamu, kita sudah sedemikian dekat. Sedekat untaian kromosom. Tapi cuma secara fisik kita dekat, hatimu seperti hutan yang tak henti membuatku merasa tersesat. Aku tak pernah mengerti seluas apa hatimu dan ada apa di dalamnya. Jika kutanya apakah kau mencintaiku, mulutmu seperti Raflesia Arnoldi, kuncup menahun yang membuatku akhirnya keletihan melakukan apapun untuk membuat mulutmu kembang dan berkata sesuatu kembali. Jika aku bilang aku mencintaimu, dirimu tiba-tiba menjelma pohon pinus yang tumbuh cepat melebihi tinggi tubuhku dan secepat kilat tiba-tiba tumbuh daun yang membentuk kanopi menghentikan perkataanku disitu tanpa bisa menjelaskan lebih jauh bahwa aku mencintaimu sedalam-dalam hatiku.

Aku mencintai kamu, tapi kamu cuma mencintai kamu. Tapi aku tak kan berhenti sebelum engkau mengusirku.

Hari itu ulang tahunmu yang ketiga puluh. Tak ada yang hadir dipestamu, karena engkau sebenarnya tak ingin ada pesta. Aku tak tega melepas hari lahirmu tanpa sesuatu. Jadi, kubuat pesta ala ku sendiri. Cuma aku sendiri tamu yang diundang. Saat tepat jam 12 malam, di sebuah restoran tepi pantai, tiba-tiba tanpa engkau tahu sebelumnya, seorang waitres membawa kue ulang tahun mungil dengan lilin bentuk usiamu yang masih menyala. Aku riang menyanyikan lagu ulang tahun buatmu berharap engkau seriang aku mensyukuri nikmat Tuhan yang telah memberimu satu tahun tambahan usia.

Tapi usahaku sia-sia. Engkau tak juga riang. Bibirmu masih terkatup tertutup. Bibirmu sempat terbuka ketika engkau tiup nyala lilin diujung lagu yang cuma aku yang menyanyikan. Itu saja. Setelah itu, cuma ombak malam yang menemani kita, aku sendiri tepatnya, menikmati kue ulang tahun seharga setengahjuta rupiah.

Tapi, usahaku memesan makanan kesukaanmu tak sia-sia. Bibirmu kembali terbuka menikmati harumnya salmon bakar yang dimasak seadanya dengan taburan saos keju. Engkau tak bersuara, tapi aku tahu dari gerak bibirmu engkau menyukai makanan yang kupesan.

Aku berhenti makan setiap engkau mulai mengunyah. Buatku, ini lebih dari cukup untuk membalas usaha kerasku memesan tempat istimewa ini untuk malam istimewa bersama orang yang istimewa: kamu. Engkau menatapku lurus disuap salmon terakhirmu. Engkau tersenyum. Sebuah hadiah ulang tahun terindah di hari istimewa.

Aku mencintai kamu, tapi kamu cuma mencintai kamu. Dan aku berjanji, tanpa atau dengan cintamu, aku akan tetap mencintai kamu.

Aku tak pernah mencintai seseorangpun sebelumnya sedemikian dalam. Buatku, cinta seagung kejora. Cuma ada satu di setiap langit kehidupan seseorang. Aku sibuk dengan studi dan karir sehingga aku tak pernah memberi celah untuk cinta hadir. Aku belum siap mencinta ketika aku masih harus berusaha keras meraih gelar MBA dan menjadi direktur termuda di perusahaanku sekarang. Tapi, celah itu terbuka ketika engkau didekatku pertama kali. Di elevator menuju lantai 31 kantorku. Pagi itu hujan pukul 6. Tak ada karyawan yang datang ke kantor sepagi itu, kecuali aku yang harus menghindari macet Jakarta. Kecuali orang kesepian seperti aku dan kamu, Oke, seperti aku saja pastinya.

Dan seperti dongeng-dongeng di cerita-cerita masa kecil. Cinta sejati ditunjukan oleh alam untuk kita. Alam mewujudkan kejadian istimewa yang memaksa dua orang yang disejatikan saling mencintai bertemu; sepatu kaca yang tertinggal, pangeran dari negeri antah berantah yang tiba-tiba hadir dan mencium tubuh putri yang dingin beku, atau putri cantik yang tanpa alasan bersedia mencium kodok yang bisa bersuara.

Buat kami, buat aku tepatnya, kejadian istimewa itu adalah elevator yang mati pagi-pagi saat petugas elevator mungkin masih terjebak macet di pertigaan patung pancoran. Kami berdua berbagi oksigen, berbagi ketakutan. Tak ada pembicaraan kita saat itu, tapi refleksku mendekatimu yang mulai gemetar. Engkau diam ketika aku rangkul tubuhmu, ketika wajahku kudekatkan di wajahmu. Dan ketika hidung bangirmu bersentuhan dengan hidungku, kita sama-sama berucap “kita akan mati sama-sama”

Dan setelah itu, aku tak ingat apa-apa. Sekretasisku sudah ada di samping tempat tidurku. Dan ia bilang, aku ditemukan pingsan sebelum satpam gedung membawaku ke rumah sakit. Sejak itu aku mencintaimu, karena aku sungguh-sungguh ketika aku bilang aku ingin mati bersamamu.

Aku tetap mencintaimu. Tapi kamu cuma mencintai kamu. Aku akan melakukan apapun untuk membuktikan cintaku padamu tak terbantahkan.

Aku berhasil membujukmu. Bukan sepenuhnya karena aku sebetulnya. Aku cuma mengangguk ketika seorang teman baik menawarkan untuk membawamu ke psikolog. Bukan karena kamu sakit jiwa, tapi kita berdua harus dipersatukan. Masa depan kita ditentukan oleh kesamaan visi yang kita miliki. Saat ini, aku sadar bahwa kita mungkin saling mencintai; setidaknya aku tahu kadar cintaku padamu, tapi aku tahu cara kita memandang cinta teramat jauh berbeda. Demi masa depanmu, demi masa depanku, demi masa depan kita, rayu teman baik tadi. Aku tak memaksamu, aku hanya mengangguk setuju, dan engkau pun bersamaku pagi ini, di ruang seorang psikolog ternama yang wajahnya sering muncul di televisi dan majalah gaya hidup.

Aku tetap mencintai kamu, tapi kita memang harus berpisah, meski kita satu, kita tak memikul kata cinta yang sama.

Psikolog terkenal itu membukakan pintu untuk aku dan kamu keluar dari ruang praktiknya. Psikolog itu boleh berbangga, karena bantuannya aku jadi tahu mengapa sikapmu dingin selama ini. Mengapa tak sedikitpun engkau mau menghargai cinta yang aku berikan padamu. Engkau bilang, tak ada lagi cinta yang orisinal di dunia ini. Love is overrated. Tak ada lagi unconditional love seperti yang kamu mimpi-mimpikan sejak kecil. Cinta saat ini tak lebih dari logika yang bersayap romantisme. Romantis di mulut, tapi motif cintanya tak sedikitpun berbau cinta. Cinta yang banyak bertaburan saat ini tak cukup untuk memagari hati untuk tak bercabang. Cinta tak lagi cukup untuk menenangkan hati ketika dua orang berjauhan. Cinta hadir Cuma ketika dua fisik bersentuhan, setelah itu hilang terganggu sinyal handphone.

Tapi aku tak mau kalah dengan pendapatmu. Buatku cinta masih agung, unconditional love itu masih ada bela-ku. Belah saja dadaku, kataku, dan kamu akan temukan cinta putih disana. Aku masih percaya cinta yang mendamaikan dan cinta yang melenakan. Ada cinta seperti pada dongeng-dongeng yang pernah kita baca bersama. Jika kita pernah dihianati seseorang yang kita cinta, bukan berarti unconditional love itu benar-benar tidak ada. Kita hanya perlu mencari orang yang tepat kemudian berusaha membangun cinta yang agung itu. Jika banyak orang yang mudah mengatakan cinta padahal dihatinya tak lebih dari hasrat memenuhi kepenasaran atau hanya alasan sex dan harta semata. Jangan berhenti berusaha, aku akan terus bersamamu menjadi pejuang untuk menempatkan cinta di tempat yang agung, tempat semestinya cinta berada. Aku butuh kamu, karena kita harus berusaha bersama. Tidak aku sendiri, tidak kamu sendiri.

Sang psikolog tersenyum di pintu ruang praktiknya. Dia bilang aku harus kembali ke sini minggu depan jam empat.Minggu depan dia akan melerai ke-akuan dan ke-kamuan dalam satu raga ini. Cinta mungkin kompleks, tapi tak seharusnya itu memunculkan dua kepribadian dalam satu tubuh. Aku gontai.

Aku tetap mencintaimu meski cinta kita tak kan lama lagi. Minggu depan jam empat sore sang psikolog akan membunuh satu dari aku atau engkau.

Aku mencintaimu. Karena itu, atas nama cinta yang agung aku mengalah. Aku tunduk pada pemikiranmu bahwa cinta sudah terlalu diagungkan. Sudah saatnya kita menyadari bahwa segala sesuatunya berubah, termasuk cinta. Tak ada lagi unconditional love diatas dunia ini. Semuanya, dalam konteks apapun, harus dipertimbangkan dengan logika. Tak perlu kita mati demi orang yang kita cinta. Hanya orang-orang bodoh yang menyalahkan cinta atas kebodohan atas nama cinta yang mereka lakukan. Aku mundur, kenang saja aku tanpa pernah ingat bahwa aku pernah punya unconditional love.



Griya Kenanga, 4 Desember 2011

Jumat, 22 Oktober 2010

Menikahlah Denganku

Di sudut sebuah rumah makan di Jakarta. Remang cahaya lilin meruapkan aura romantis. Tak banyak pengunjung menikmati hidangan di rumah makan fine dining terbaik di Jakarta ini. Di antara para pengunjung, kami diam khusyuk saling menatap.

“Maukah kau menikah denganku..??”
Ia berlutut, menengadah dengan wajah terdedah harap. Aku bergeming, terkejut.
“Maukah kau menikah denganku, Ayu..??”
Ia mengulang katanya dengan suara yang lebih berat, berharap jawab.

Aku berdiri dari dudukku, mengangkat kedua telapak tangannya dari kedua telapak tanganku, pelan dengan cinta tak terbelah. Hatiku gundah, apa yang aku takutkan akhirnya datang juga. Bukan aku tak mencintainya, atau tak ingin menghabiskan waktu berdua dengannya seumur hidupku. Hanya saja, menikah dengannya..?? akhhh…

Lima belas bulan sebelumnya…
Senja di salah satu sudut Helsinski; Aku duduk di salah satu sudut café di dekat hotel dimana aku menginap di daerah Katajanoka. Aku baru akan datang ke tempat konferensi esok hari. Sore ini setelah menyegarkan diri di hotel, Aku menyempatkan keluar hotel dengan jaket yang kugunakan untuk menepis hawa dingin dan sebundel makalah yang harus kupresentasikan pada hari keempat dari lima hari konfrensi yang direncanakan.

Di sudut café yang didesain dengan gaya eropa: dinding batu bata merah ranum; lampu dinding ala mediterain; kudapan dan kopi yang masih mengepul, aku sibuk membuka-buka makalah ditangan. Sesekali kutatap orang-orang disekeliling sambil berpikir beberapa dari mereka mungkin juga peserta konfrensi besok hari yang diadakan oleh Working Group on DNA Analysis Method, sebuah organisasi bentukan FBI. Aku diundang dalam konfrensi ini semata karena aku terlibat langsung dalam analisa DNA korban tragedi Bali 2002 lalu, dan FBI yang terlibat dalam penyelidikan waktu itu menganggap aku Mas Ayu Putri Avieska layak berbicara di forum internasional itu.

Senja yang terus berjalan merubah sinar mentari yang keemasan menghilang. aku masih terpekur dengan makalah ditangan, saat seseorang menyapa.
“Indonesian…??”
Aku mengangkat pandang, menatap sumber suara.
“Yah,…” aku menjawab senang.
“Saya,.Roy..nice to have people from Indonesia, here…”
“Ya, nice to meet you too..”
“Silahkan,..” sambungku mempersilahkan teman baruku untuk duduk

“Travel atau sedang dinas…??,..” ia membuka percakapan
“Hmmm,..dinas.” aku menjawab tanpa melepaskan bundel makalah di tangan
“Oww..nampaknya Anda sangat serius, boleh saya tahu apa yang Anda baca..”
Aku mengernyitkan dahi, mungkin malu atau bahkan bangga dengan jawaban yang aku akan berikan atas pertanyaannya. Akhirnya, aku cuma bisa mengangkat makalah dan membalikan halaman depannya agar ia bisa membacanya sendiri.
“Advanced Using MtDNA at Restriction Fragment Length Polymorphisme method.. God, what a title,..Anda yang menulis…??”
Aku cuma membalas dengan senyum, bangga.
“Ini hari pertama di Helsinki..??”
“Yup..”
“Bagaimana kalau saya ajak Anda berkeliling , sayang kalau Anda ke Helsinki tapi tak sempat melihat banyak hal di sini. Ayo lah,..nanti akan saya ajak Anda melihat taman Sibelius atau taman Kaivopuisto, semuanya indah, terutama patung-patung Roma-nya.
Ayolah, tak mungkin saya berbuat jahat sama orang satu negara, lagi pula apa saya ada tampang penjahat…” rayunya.

Akupun mengangguk tanda setuju. Aku juga tertarik untuk menikmati pemandangan Helsinki lebih jauh. Beberapa saat kemudian kami berada di pedestrian melewati gedung-gedung yang berarsitek sangat eropa hasil peninggalan kekusasaan Rusia di ibukota Finlandia ini. Aku tertegun mengagumi Tsarina`s stone, tugu yang diatasnya bertengger elang emas berkepala dua, objek yang tak pernah dilewati turis mancanegara saat berkunjung ke Helsinski.

“Anda belum cerita, tujuan anda di Helsinki…” tanyaku
“Hmm..Anda sudah berkeluarga,..???” tanyanya mengelak dari pertanyaanku
“Belum,..”
“Mengapa…??” Hening yang panjang, ia nampak tak nyaman
“Yaaaa, belum ada cinta yang menepi..” jawabku sekenanya
“Hmm..”, ia sedikit terkekeh,… “tak kan pula cinta menepi bila belum kau siapkan dermaga untuk cinta menepi” katanya.
“Kamu…??”
“Hampir…”
Aku memandang wajahnya,..meminta penjelasan..
“Aku justru berbeda denganmu, justru karena seringnya cinta menepi, aku tak pernah jadi menikah.”
“Maksudmu..??”
“Aku mudah jatuh cinta, bahkan suatu saat, aku pernah mencintai 7 orang dalam satu waktu..”
“Tujuh..???!!, bagaimana mungkin, engkau cuma punya satu tulang rusuk yang terserabut.”
“Tujuh,…??!!” Aku masih belum mengerti
“Aku selalu menemukan kekurangan dari orang yang aku cintai, dan ketika tidak kutemukan kekurangan tersebut pada seseorang, aku akan mencintainya,..dan begitu seterusnya, sehingga genaplah sudah tujuh orang yang saling melengkapi satu sama lain dan tak mungkin semuanya aku nikahi,..kan…??.”
“Tapi, yang engkau cintai dari jenis manusia kan..?? Mencintai manusia berarti engkau akan menemukan kekurangan di dalamnya,” debatku

“Kamu, kenapa tak kau coba untuk menjadikan seseorang sebagai kekasih…?” balasnya
Ia menatapku, kali ini lebih dalam.Aku kikuk tapi mata kami bertemu lama.

Helsinki pada senja menjadi kolaborasi tempat dan waktu yang menyenangkan untuk menikmati pedestrian. Tak terasa kami telah berjalan lebih dari satu kilometer. Kini kami berada di teras katedral Uspanski, katedral yang dibangun oleh AM Gornostayev pada tahun 1868. Di sini kami dapat melihat Helsinski secara lebih detail, terlihat market square yang hanya ramai pada pagi hingga siang dan kapal-kapal pesiar yang berseliweran di laut Baltik.

“Kamu pernah jatuh cinta…??? tanyanya
“Cinta terlalu absurd buatku, ia kata yang terbang, rasa yang tak terdefinisi, aku lebih suka menjabarkan sel eukariot dan proses migrasi kromosom ketimbang harus bicara tentang cinta.” Jawabku panjang lebar. Aku memang asing dengan cinta. Sejak aku baligh sampai usia awal tiga puluhan seperti saat ini, aku belum pernah merasakan jatuh cinta. Aku pernah menyukai seorang teman SMA dulu, tapi sesuatu dalam benakku melarangnya. Alhasil, aku cuma bisa menunjukkan rasa benci pada laki-laki yang sebenarnya membuat jantungku berdegup keras. Aku akhirnya sibuk dengan urusan sekolah, kuliah dan penelitian. Aku tak mengindahkan banyak laki-laki yang sebenarnya mengejar cintaku. Aku rigid. Aku cuma tak ingin menyia-nyiakan hidupku untuk sebuah perasaan serupa cinta. Persis seperti ayah ibuku yang akhirnya bercerai demi mengejar cinta yang baru. Padahal mereka pernah saling mencintai ketika mereka menikah. Mereka masih saling mencintai ketika aku lahir. Tapi ketika cinta mereka pupus dan masing-masing menemukan cinta yang baru, mereka tega meninggalkanku di rumah nenekku. Cinta baru mereka membuat mereka lupa, aku masih butuh kasih sayang. Kata-kata barusan terucap tanpa sadar. Belum pernah aku menceritakan hal yang sangat pribadi tersebut kepada orang lain. Terlebih lagi pada orang yang baru 2 jam aku kenal.
“Tapi, sejatinya manusia adalah makhluk pencinta, kamu pasti akan merasakannya lagi ” katanyanya menyudutkan
“By the way, senja hampir menepi, malam akan segera datang. Kita kembali ke Katajanoka, hotelku tak jauh dari café tadi kita bertemu.” Aku tak suka arah pembicaraannya barusan.
“OK..kita bisa bertemu lagi..???”
“Mungkin..” jawabku..

Seperti yang sudah dijadwalkan, pada hari keempat aku menjadi pembicara dengan makalah yang memang telah aku persiapkan. Aku sepintas menangkap wajah Roy diantara para peserta seminar. Dan betul sesaat setelah seminar berakhir Roy datang menghampiri.
“Good Job, Indonesia butuh orang-orang yang mampu mengharumkan nama bangsa seperti kamu ”
“Thanks..!!.” Aku tersenyum, menatapnya dalam..menyenangkan rasanya menemukan seorang Indonesia di antara kerumunan wajah kaukasia. Ia juga menatapku dengan cara yang sama.
“you know what..?..presentasi kamu tadi mengingat saya arti pentingnya cinta”
Aku terkaget, apa maksud dari perkataannya barusan.
Ia melanjutkan, “Cinta itu seperi Mitokondria yang tadi kamu jelaskan di seminar, ia adalah penyemangat, penghasil adenosin tripospat yang membangkitkan energi, keberadaannya mesti ada pada semua sel, terutama pada saat-saat dimana kita perlu pembangkit gairah, seperti juga mitokondria yang sangat dibutuhkan oleh sel-sel kontraktil dan sel-sel tubuh yang selalu membelah seperti pada epitelium, akar rambut dan epidermis kulit”
Aku terhenyak, aku belum mengenalnya jauh.
“Kapan balik ke Jakarta..??” tanyanya
Aku tersentak dari lamun panjangku untuk mencoba menebak lebih jauh identitas orang yang telah membuatku salah duga, membuatku bangga.
“Oh..besok, pesawat jam 8 malam, kamu…??”
“Mungkin saya akan menetap disini sampai setahun kedepan..Penelitianku tentang perilaku ribosom pada proses duplikasi DNA virus HIV belum selesai..” jawabnya.
Aku kembali tertaget, tapi aku merasakan nyaman yang baru kali ini kurasakan bersama seorang laki-laki. Meski terlambat, tapi mungkin aku masih layak merasakan cinta.

Kembali ke Jakarta…
“Bukankah seharusnya engkau gembira, Sayang..??” ia telah berdiri dengan sejuta tanya
“Aku gembira, Roy..hanya sajaa..?”
“hanya saja..??” ia berlalu menjauh, perlahan, pasti dengan gusar yang menggelombang.
“Roy..??!” aku setengah berteriak memanggilnya, ia berhenti, dan berbalik arah
“Bukannya aku tak mencintaimu, Roy, hanya saja,…”
Wajahnya kritis mengharap penjelasan.
“Hanya saja, aku..aku tak percaya dengan…..per ni ka han”
Roy terkejut. Ekspresinya seperti tanaman yang bertahun-tahun tak disiram
“Cobalah mengerti dulu dan tak menjadi hakim sebelum saya jelaskan semua..”
“Saya tak percaya pada pernikahan, karena cinta tak harus dikontrak sehidup semati, itu sama saja memenjarakan rasa, sesuatu yang saya sendiri tak tahu bentuknya, kamu ingat ceritaku lima belas bulan yang lalu tentang kedua orang tuaku, kan?”
“Jadi, kau tak sepenuhnya mencintaiku..?” tanyanya sedih
“Bbbb bukan begitu, I do love you, so so much, but..do I love you next year..?”
“ I will love you next year, and the years after…believe me.” Roy menjawab setengah berteriak mengguncang bahuku dan memaksa mata kita bertabrakan
“ Saya percaya kamu Roy, tapi..”
“ Tapi apa..??!!, kamu takut kita tak saling mencintai ke depan..??!’, ya Tuhan, kamu dan saya tak kan pernah tahu apa kita akan saling mencintai kecuali kita mencobanya”
“Apa jadinya jika kita tidak lagi saling mencintai sementara kita masih terikat pernikahan..??”
“Ayu, mencintai is a never ending process, menikah adalah cara untuk melegalkan proses cinta bertumbuh. Cinta akan membesar kala kita menikah, karena kita akan berproses untuk mengetahui satu sama lain. It’s a process Ayu..”
“Tapi, mereka menjadi musuh setelah menikah, bersitegang dan saling membenci setelah menikah”
“Itu karena mereka berpikir bahwa menikah adalah pelabuhan terakhir dari cinta, it wasn’t, pernikahan itu awal bukan akhir perjalanan cinta, banyak orang sukses bertumbuh cintanya setelah menikah, bahagia luar biasa setelah itu, trust me..!!”
“I do trust you, mungkin kamu banyak melihat orang yang bahagia setelah menikah, Tapi aku dengan mata kepalaku justru melihat sebaliknya”
Roy luluh lemas. Tak tahu apa lagi yang harus dikatakannya padaku, perempuan yang katanya telah memenuhi hatinya sejak lima belas bulan lalu. Kami diam di kursi masing-masing, membiarkan udara malam membekukan tubuh kami, menyerahkan semuanya pada waktu, sang penguasa alam.

LIturgi Kematian

Beberapa karangan bunga dipasang di sekitar podium. Merah ranum, putih gading; Mawar. Udara beku dingin. Di dekat bunga-bunga yang memendar wangi, wajah David pias putih. Baju putihnya ditutup jas hitam baru. Ia kaku disana, matanya terpejam penuh. Tubuhnya terbaring di peti yang tutupnya dibiarkan terbuka. Hanya kain kelambu menutupi peti. Semua hadirin senyap khidmat mendengarkan pemberkatan terakhir dari pastor gereja. Mengantarkan jasad David yang sebentar lagi dibawa ke peristirahatan terakhir.

Semua wajah berkabung tak terkecuali. David, Bapak tiga anak ini meninggal beberapa hari lalu dalam serangan jantung mendadak. Tak ada firasat sebelumnya yang mengabarkan ia akan terbang ke negeri seberang tanpa pernah kembali pulang. Nyawa yang hanya satu memang bisa lepas kapan saja, mengagetkan keluarga dan rekan, membawa derai tangis sepekan.

Sang pastor memula pemberkatan
Kembalilah tenang hai jiwaku, sebab Tuhan itu baik. Sungguh berharga kematian semua orang yang dikasihiNya, sebab kepadaNya ada pengampunan. Tetapi Tuhan, kami sungguh berduka atas kehilangan saudara kami ini. Perpisahan dengan kematian ini membuat keluarga di sini dan persekutuan kami melihat betapa rapuhnya hidup ini.

Seperti pemazmur yang mengatakan bahwa: “Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia. Dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.”

Khutbah sang pastor selesai. Liturgi belum sepertiganya selesai. Jamaat yang hampir kesemuanya berbaju hitam menunduk menahan tangis. Melepas David, satu dari sekian banyak jemaat gereja yang rajin mengikuti pelayanan. Ia disuka hampir semua orang. Keramahan bercampur semangat dan kecerdasannya merupakan magnet besar yang membuatnya disukai banyak orang.

Setelah sang pastor, tiba giliran Sarah, istri David. Sejak berdiri dari kursinya di barisan depan ruang misa, Sarah sudah menjadi perhatian. Sarah, seperti juga David, dikenal sebagai pribadi yang menarik. Tidak cuma karena keramahan dan antusiasmenya, tapi juga fisiknya. Meski telah melahirkan tiga anak, jejak kecantikan sarah tak pudar. Sarah, cantik secantik-cantiknya, mirip Aishwara Rai, primadona Bollywood. Sarah, sangat kontras dengan David yang berbadan tambun, bermata sipit dan berkacamata minus tebal. Mereka bertemu saat sama-sama kuliah di Nanyang Technological University (NTU) Singapura. Rekan-rekan Sarah menduga, David telah menggunakan ilmu hitam untuk menggaet Sarah. Secara logika, tak mungkin Sarah jatuh hati pada David. David memang cerdas, tapi di NTU banyak laki-laki secerdas David tapi punya penampilan yang jauh lebih baik dari David. Jemaat tak tahu bahwa sebentar lagi Sarah akan mengungkapkan ilmu hitam apa yang telah digunakan David selama ini.

Sarah berjalan tegak. Masih terlihat mendung diwajahnya. Sesekali ketika ia menuju podium ia menatap tiga anaknya yang sejak awal misa duduk bersisian dengannya. Jemaat menahan nafas. Mereka dapat melihat kehilangan besar yang dirasakan Sarah. Betapa tidak, Sarah dan David adalah pasangan inspirasional. Beberapa anak muda menjulukinya sebagai “love is blind” couple. Mereka percaya Sarah tak melihat fisik David ketika mereka memutuskan menikah. Karena, sekali lagi, Sarah bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari David. Sarah juga tak mungkin dituduh menikahi David karena harta. Sebagai putri diplomat, tak kurang kekayaan yang diterima Sarah dari orangtuanya.
Jemaat menahan nafas, mereka telah siap mendengarkan kata perpisahan yang memilu yang akan keluar dari bibir Sarah.

Selamat pagi semua.Sarah memulai pidatonya.
Terima kasih atas dukungan dan ungkapan duka cita Anda semua, kepergian David memang berat, tapi dengan bantuan Anda semua, kami pasti bisa melaluinya.

Sampai sini Sarah diam. Ia menunduk sebentar, kemudian membuka kacamatanya dan sedikit merapikan rambut sebahunya dengan sedikit kibasan. Jemaat menahan nafas. Sarah berubah cerah. Jemaat terdedah, kemudian Sarah tersenyum dan melanjutkan pidatonya. Jemaat bertambah heran. Kaku menatap sikap Sarah

Berbeda dengan pidato pelepasan yang biasa Anda dengar ketika seorang meninggal, Saya, tidak akan bercerita hal-hal positif saja tentang David. Saya, justru akan menjabarkan perilaku buruk suami saya…Dan itu tidak sedikit.
Sarah menyelipkan senyum nakal di akhir kata-katanya barusan

Jamaat menahan napas. Ibu dan Bapak David saling menatap satu sama lain, heran. Begitu pula jemaat lain yang datang bersama suami atau isteri atau rekan masing-masing. Tapi Sarah tetap bersuara lantang dengan sikap yang meyakinkan. Sebagian wajah-wajah hadirin tegang. Tak menduga apa yang telah dan akan dikatakan Sarah.
Suami saya, bukan pria romantis sama sekali. Ia lebih sering berada di depan laptopnya dibandingkan berbaring dengan saya di tempat tidur. Malam-malam pertama setelah menikah adalah malam-malam penuh siksaan buat saya. David jarang menemani saya, sekalinya ia ada di samping saya ia MENDENGKUR dengan dahsyatnya.
Sarah berbicara dengan antusias. Tulus tak dibuat-buat. Suasana di dalam gereja dan wajah-wajah jemaat yang sebelumnya tegang mulai cair. Sarah kembali melanjutkan
Suara dengkurannya seperti kereta luar kota kroook… ……kroook…… kroook
Sarah meniru dengkuran David dengan jenaka. Hadirin mulai menahan senyum.
Ketika makan di meja makan, cara ia makan betul-betul kampungan. Ia bisa bersendawa tiba-tiba,
Sarah lagi-lagi meniru gaya David bersendawa, HuAAAHHH, lucu persis.
Kemudian David akan melanjutkan makannya seolah tak terjadi apa-apa. Kata sarah melanjutkan.
Sarah kemudian diam menunduk. Kemudian dengan suara tertahan ia kembali melanjutkan pidatonya.
Sebagian dari Anda pasti bertanya mengapa saya tak memilih lelaki lain yang lebih sempurna. David sipit..Sarah memicingkan matanya lucu, jemaat tersenyum.
David tambun. Sarah mengelembungkan pipinya sehingga wajahnya cantik membulat, bulat seperti wajah david. Beberapa jamaat mulai berani melepas derai tawanya meski cuma sedikit. Tetapi tawa seluruh hadirin pecah memenuhi ruang gereja, ketika Sarah dengan sedikit terbuka menceritakan kehidupan ranjang mereka. David, kata Sarah, lebih suka menjadi “anjing” daripada menjadi “misionaris”. Sarah tanpa malu, tidak hanya berkata, ia bertingkah lucu menirukan ucapannya, penuh penghayatan selayak pelawak.

Ketika tawa hadirin reda. Sarah kembali pada posisinya, dengan khidmat dia mengatakan;
Ketika saya gadis, semua orang memuji kecantikan saya. Karenanya, saya berusaha menjadi sempurna untuk semua orang, untuk menyenangkan mereka yang telah menyenangkan saya melalui pujian selangit. Tapi pujian yang sama tidak saya dapat dari David. Ia satu-satunya lelaki yang belum pernah mengatakan saya cantik, saat itu.
Awal perkenalan kami terjadi ketika kami sama-sama satu kelompok untuk mengerjakan satu projek kuliah. Ketika hanya kami berdua beradu argumen di perpustakan, tiba-tiba David berkomentar; Hidungmu bangir mancung, tapi kurang simetris.

Rasanya bukan main marahnya mendengar penghinaan David barusan. Saya pikir, David laki-laki tidak normal. Ia hanya tak suka pada saya yang menjadi pusat perhatian. Tapi, kemudian David menatap saya dalam, membuat saya kikuk didepan makluk teraneh itu. Ia lalu mengatakan sesuatu yang tidak saya duga sebelumnya; Ketidaksimetrisan hidung kamu itu membuat saya jatuh hati, katanya, syahdu sambil menatap dalam ke mata saya. Saya malu seketika, kikuk mendengar pernyataan David barusan. Selama ini saya berusaha sekuat tenaga menutupi sedikit ketidaksimetrisan hidungku dengan riasan make up, semua orang tertipu, tapi tidak David.

David, satu-satunya orang yang mampu melihat kekuranganku daripada kelebihanku. Tidak hanya ia mampu menemukan tapi juga mencintai kekuranganku. Ketika ia melihat kekuranganku, tak ada yang ia lakukan kecuali ia memujiku. Ia tahu, saya tak bisa memasak, tapi ia selalu memuji hasil masakanku. Ia tahu saya suka film-film cengeng bollywood, ia tak protes meski saya tahu ia sangat membenci menonton film apapun, kecuali Doraemon kantong ajaib. Dan ia tetap bersamaku selama dua jam lebih di dalam bioskop.Tanpa Mengeluh

Hadirin tersenyum.

David, yang menyadarkanku untuk melihat kelebihan dan kekurangan dengan cara pandang yang sama. Kita tidak hanya bisa mengambil kelebihan seseorang tapi tak menerima kekurangannya. Kelebihan dan kekurangan seseorang hadir saling melengkapi, begitu David mengajarkan saya.

Bersama David, 17 tahun terakhir, saya belajar untuk mengerti bahwa sebagai manusia kita dipenuhi oleh ketidaksempurnaan. David yang bilang ke saya, ketaksempurnaan manusia adalah bentuk kesempurnaan kita sebagai manusia. Sarah jeda, kepalanya menunduk.

Saat ini, saya akan kehilangan jasad David, tapi pelajaran yang David berikan akan terus menjadi peninggalan berharga buat saya, dan akan saya teruskan untuk anak-anak kami.
Sarah menatap satu-satu ketiga putra-putrinya. Sambil menatap ketiganya, Sarah penuh yakin mengatakan

Anak-anakku, Jangan pernah berusaha menjadi sempurna jika itu membuat kamu kehilangan sisi riang dirimu. Jangan pernah ingin sempurna, jika itu harus melukai orang lain. Biar saja orang mengejekmu karena ketidaksempurnaanmu. Mereka yang mengejek ketaksempurnaanmu, adalah mereka-mereka yang belum memahami hakikat kemanusiaannya. Ketaksempurnaan David, ayah kalian, juga ketidaksempurnaan kalian anak-anakku, membuat hidup Mama sempurna.

Hadirin sepi. Sarah turun dari podium. Ada tetesan airmata di wajahnya. Ia berjalan bergegas menghampiri kemudian memeluk tiga putra-putrinya.

Selasa, 03 Agustus 2010

Di Depan Pintu, Ariel Menunggu

"Baru kali ini, Indonesia mampu membawa isu yang mampu bertahan selama 9 jam di trending topic Twitter, mengalahkan peluncuran IPad dari Apple Inc."

Juni 2010 lalu Indonesia dihebohkan dengan munculnya video porno mirip artis Ariel dan Luna Maya. Namun, sampai saat ini vokalis band Peterpan dan icon XL tersebut belum mengakui bahwa mereka adalah pelaku dalam video tersebut. Ternyata rumors yang ada terus berkemabnag, bahkan dikabarakan masih banyak lagi video-video serupa yang diperankan ariel dan pacar-pacarnya yang lain.

Hal ini terjadi sebagai ekef negatif dari kemajuan teknologi. Hanya dalam hitungan menit berita dan video tersebut menyebar dan mudah diakses oleh pengguna internet di seluruh dunia. Banyak rumor berkembang menyebutkan bahwa masih banyak koleksi pribadi ariel yang berpindah tangan dan sampai saat ini belum diekspos ke dunia maya.

Secepat reputasi ariel naik ketika masuk ke dunia musik, secepat itu pula namanya akan terpuruk, akibat beredarnya video porno itu. Jika terbukti bahwa Ariel memiliki 32 koleksi video porno seperti yang diberitakan, maka Ariel berhak mendapatkan rekor Muri sebagai artis dengan video porno terbanyak.

Seiring dengan ramainya trending topic di jejaring social twitter mengenai video porno Ariel, nama Ariel inipun kini mendunia. Bahkan, salah satu artis porno terkenal dari Jepang, Miyabi, menantang Ariel untuk bermain dalam satu film.

Apa yang dilakukan Ariel menunjukkan kebobrokan moral para artis Indonesia. Bahkan beberapa kalangan mengkhawatirkan ini sebagai awal maraknya perilaku bejat masyarakan pada zaman Nabi Luth. Bagi Ariel, apa yang dilakukannya tidak hanya mengakibatkan hujatan dari masyarakat, bahkan pintu neraka sudah menantinya.

(ditulis oleh secara gotong royong oleh peserta training BKW TOP Academy Batch 2)

Senin, 29 Maret 2010

Engkau Masih Baik

Engkau seperti guci antik di rumahku
Kurawat engkau semampuku
Kujunjung kehormatan keindahanmu
Tapi di belakangku
Engkau seperti toples kue
Haruskah berlanjut kujunjung kehormatanmu

Engaku (mungkin) baik hati
Mungkin engkau tak seburuk yang kupikirkan
Engkau memiliki berjuta kebaikan
Buruk dan baik Cuma masalah subyek penilai
Engkau pastilah baik buatmu, buat para pemujamu
Buat tetangga-tetanggamu, buat teman malammu
Tapi belum baik buatku
Atau aku harus sepertimu, biar aku mampu melihatmu baik

Main Hati

Jangan merasa bersalah
Jika kau baca banyak luka di kisahku
Jadilah dirimu sebelum ini
Yang tak pernah bermain hati
Untukku dan puluhan temanmu

Pintu dan Jendela

Sejak aku lahir
Aku telah menutup pintu diriku sekuat aku mampu
Tapi rusaknya diriku
Karena engkau telah membukakan jendela
Membawa debu hitam menempel di dalam diriku
Apatah guna sekarang masih kubiarkan pintuku tertutup

Datanglah Cinta Baru

Datanglah engkau wahai pribadi baru
Mendekatlah padaku
Aku telah rindu padamu
Engkaulah pemilik cinta sejatiku
Yang menantiku, kunantimu

Engkau lah pemilik sejuta puisiku
Yang membenarkan kisah-kisah sejati tentang cinta
Yang mengimani puisi-puisi romantisku

Datanglah mendekati wahai pribadi baru
Masih ada sejuta puisi dan kisah romantic untukmu
Kan kuhidangkan apapun yang kau mau
Karena kau cinta sejatiku
Penyelamat keyakinanku
Bahwa akan selalu ada satu cinta sejati untuk setiap umat

Sakit Hatiku

JIka kau ingin tahu betapa sakitnya hatiku
Cobalah ke batu hiu
Cabutlah seruas pandan berduri terbesar di sana
Masukkan sedepa ke liang hatimu
Lalu kau iris hatimu pelan-pelan
Biarkan durinya lepas satu-satu dan bersarang di sana
Teruslah bergerak pelan-pelan
Sampai enam purnama berlalu

Jika kau ingin tahu betapa sakitnya hatiku
Kubur saja keinginanmu
Karena kau takkan mampu merasakannya

Aku tak marah padamu

Aku tak pernah cemburu kau memilih orang lain
Aku sadar, aku tak kan mampu diperbandingkan dengan puluhan orang
Aku hanya menyesalkan tujuh purnama berlalu jauh dari harapku
Mungkin tak sepenuhnya salahmu
Aku yang terlalu emosi mencinta
Hingga tak lagi nalarku terlibat

Baru kutahu Engkau jauh dari berhak atas cintaku
Tapi, Engkau telah sita waktuku
Hingga aku tak lagi mungkin merasakan cinta sejati
Cinta dalam puisi dan kisah yang kutulis untukmu
Yang engkau bilang menyukainya
Mungkin karena engkau bisa mentertawakan kenaifan kisah cinta yang kuimpikan

Aku tak pernah marah padamu karena kau memilih orang lain
Aku hanya marah atas diriku yang begitu bodoh menerimamu

Hatiku tak lagi berdarah

Mengapa tak kau tinggalkan saja diriku
Jika hanya ingin kau toreh luka baru

Untukmu ketahui,
Hatiku tak lagi punya darah yang mengalirkan rasa sakit
Tak guna kau bujuk aku untuk mempercayaimu lagi
Untuk kemudian kau lukai lagi
Karena hatiku tak lagi punya darah

Ini bukan puisi untukmu

Aku rindu menulis puisi
Merangkai kata paling romantis sedunia
Seperti dulu kerap aku lakukan untukmu

Tapi tidak kini,
Aku ingin menulis sebanyak puisi
bukan untukmu
Karena puisi yang kutulis murni dari hatiku
Tak pernah berarti apa-apa untukmu
Bahkan, kau hempas semuanya

Hingga tahunan hatiku bisu berpuisi
tak bertenaga menulis satu katapun
Hanya mampu membaca remah puisi yang tak berarti apa-apa buatmu

Aku akan menulis sejuta puisi
Hingga tumpah semua rasaku
Tapi tak kan kutulis sebait puisi pun untukmu
Tak kan pula berguna kugarami air selautan

Jumat, 26 Maret 2010

Hatiku Belah

Hatiku masih belah berantakan. Seperti didera gempa dadakan. Retak-retak tak beraturan.
Hatiku ternyata rapuh. Berdentum setiap detiknya seperti tak henti ditabuh.
Luluh bergemuruh. Ledak berkeredap. Lalu belah berantakan.

Senin, 01 Februari 2010

Birthday at Bromo Part 2

Perjuangan belum selesai. Untuk sampai ke bibir Bromo, pengunjung harus menaiki anak tangga miring tajam. Rasanya mau mundur saja jika Simon dan anak perempuannya yang berumur 6 tahun tak ada di belakang saya menaiki anak tangga dengan semangat. Apalagi, di depan saya dalam arah pulang, ada seorang turis menggunakan kruk menuruni tangga tertatih. Ia pasti telah menaiki tangga yang sama seperti tangga yang saya naiki sekarang. Kalau dia yang cacat bisa, saya pasti bisa. Saya langsung memujinya, salut to you my man. Yang dipuji tersenyum dan memberi semangat saya untuk naik ke atas.

Dan saya akhirnya bisa sampai ke bibir Bromo. Kawah aktifnya tak henti mengeluarkan asap. Untung tak banyak uap belerang sehingga saya bisa berlama di sini, mengambil beberapa foto untuk diupload di facebook atau dikirimkan ke salah satu majalah ibukota atau untuk dikirimkan ke tim audisi take him out.

Puas dengan memandangi Bromo yang sedikit mengingatkan saya pada neraka kalau saya badung di dunia, saya merasa harus jujur kali ini. Tak ingin rasanya membohongi kustiawan dan pengangon kuda lainnya. Saya pun memilih untuk berjalan kaki pulang ke tempat hardtop kami di parkir. Letih, tapi tak ada pilihan. 4 Km lautan pasir menunggu di depan. Tapi, pemandangan sekitar Bromo tetap menjadi penghilang lelah yang ampuh.

Sampai di homestay pukul 8.30, rasanya dengkul ini butuh tambahan pelumas sekaligus tempurungnya. Beristirahat sebentar, Pak Hartono menjelaskan tempat-tempat lain yang bisa dikunjungi di sekitar Bromo. Saya tertarik. Ada pasir berbisik yang akan mengingatkan saya pada tempat pertemuan pertama saya dengan Dian Sastro. Di pasir berbisik inilah kami pertama kali bertemu. Dian di televisi sedang acting film pasir berbisik, saya di luar TV di sofa warna biru menyaksikan Dian melakoni anak suku tengger. Ada juga savanna, ranu pane dan coban pelangi. Di coban pelangi ini tempat shooting film reboundnya Tamara Blesynizki. Konon di film ini, Tamara rela diet ketat dan olah raga berat demi obral aurat.

Saya langsung bersemangat menelusuri kesemua tempat tersebut. Deal dengan salah satu tukang ojek kenalan Pak Hartono, 200 ribu bersih. Satu jam kemudian saya sudah siap mengarungi lautan pasir, bermain di savanna, ke ranu pane, cemoro lawang dan tembus ke Malang kota apel.

Perjalanan ruarr biasa. Melewati lautan pasir saya menjumpai beberapa warga tengger yang sedang mencari rumput. Wajah-wajah tanpa nafsu keduniawian. Kemudian saya menyempatkan mematung di savanna yang kata pengendara motor yang saya sewa seperti di teletubis. Entah karena pemandangannya atau karena pengunjungnya, saya maksudnya, yang membuat si tukang ojek mendapatkan ide tentang teletubis tersebut. Dari savanna yang menjadi rute para pendaki Semeru, Ion sang pengojek, mengantarkan saya melewati jalan yang kedua sisinya curam terjal. Sebelah kiri jurang, jurang di sebelah kanan. Tapi melewati perkampungan petani ranu pane membangunkan saya bahwa Indonesia memang harus mengembangkan agribisnis di negeri ini. Ini seperti apa yang ada di kepalanya Wati, Budi dan Iwan, sahabat waktu saya kecil yang saya kenal di buku paket.

Dari ranu pane, perjalanan menelusuri pemukiman warga tengger makin mengasikan. Ladang-ladang yang sedang disiangi berselimutkan kabut. Hawa dingin yang memberi kesejukkan membuat saya beberapa kali harus menepuk bahu Ion dan memintanya untuk mengambil gambar saya dengan gaya natural yang dibuat senatural mungkin. Next time kalau saya berniat ikut take him out, saya sudah punya banyak stok gambar.

Menuju coban pelangi, perjalanan harus membelah hutan hujan tropis. Berkilometer saya dan ion berboncengan tanpa bertemu seorangpun. Dan akhirnya saya sampai di coban pelangi. Ion hanya bisa mengantarkan saya ke gerbang loket, setelah itu saya menuruni bukit sampai di coban atau curug dalam bahasa sunda. Dalam perjalanan menuju coban saya bertemu banyak orang dan kesemuanya berpelukan mesra. Jangan-jangan coban ini memang untuk para pasangan. Bulu kuduk saya tiba-tiba merinding, saya seperti ditemani seseorang. Ayat kursi saya lantunkan, bulu kuduk saya mulai normal sambil terus berjalan menuju coban. Setelah turun naik licin kering daratan ditempuh, saya sampai juga di coban pelangi. Dengan tinggi kira-kira 50 meter, curug ini memiliki bentuk sempurna hanya saja aliran airnya tak cocok untuk mandi dan berendam. Alamnya masih terlalu liar dan tak ramah. Saya hanya bisa beristirahat sebentar, mengambil beberapa foto diri menggunakan kamera dan tangan sendiri, setelah itu kembali ke gerbang.

Dan benar saja, perjalanan kembali ke gerbang memerlukan energi yang jauh lebih berat. Saya sempat 5 kali beristirahat. Bulu kuduk saya kembali meremang di tempat pertama kali bulu kuduk saya berdiri. Lagi-lagi ayat kursi dilantunkan. Saya punya pengalaman mistis 14 tahun lalu di salah satu curug di bogor. Tak perlu lah saya ceritakan, nanti bisa jadi scenario film tamara berikutnya.

Sampai di gerbong Ion sudah siap mengantarkan saya ke Malang. Di gerbang ini juga saya bertemu dengan dua teman saya kemarin. Ternyata mereka terilhami oleh saya untuk juga mengunjungi tempat-tempat yang saya kunjungi, kecuali mereka mengurungkan keRanu Pane karena jalannya yang terjal. Beberapa menit kemudian kami konvoi melewati kebun-kebun apel yang buahnya baru saja menyembul. Beberapa sudah selesai panen dan masih tersisa, saya mampir sebentar memetik satu saja buahnya merasakan sensasi memetik apel langsung dari pohonnya, sensasi mimpi masa kecil.

Perjalanan 2 hari ini just about to end. Dari Terminal Malang saya naek bus menuju Bungurasih, 15 ribu saja, 2 jam perjalanan. Dari Bungurasih, saya naik taxi bertiga dengan mahasiswa Unibraw yang duduk di samping saya di bus. 50 ribu bertiga, 20 menit, sampai di Bandara Juanda pukul 17.45. Di Bandara Juanda, saya dikerubuti Calo tiket. Mereka tahu saya penumpang Go Show. Mereka menawarkan harga tiket 450 rb ke Jakarta. Saya selayak Tukul saat itu. Ndak mau tahu dan ngga mau denger para calo. Dari counter ke counter saya datangi untuk mencari tiket termurah dan terdekat jadwalnya dan pilihan itu jatuh pada Mandalaair. 508 ribu tanpa minum tanpa snack. Di ketinggian 33000 kaki saya kehausan dan terpaksa membeli jus apel 300 ml seharga 18 ribu.

Sampai di Jakarta pukul 19.45 WIB dengan nuansa baru. Matahari terbit di puncak bromo adalah saat saya menyadari bahwa masih akan ada keriangan baru dalam hidup saya. Tapi, saya juga harus berhati-hati melangkah. Jika tidak hidup hanya akan mencengkeram saya sewarna jingga kemerahan di puncak Pananjakan

Minggu, 31 Januari 2010

Birthday at Bromo Part 1

Bromo is a beautiful place. You will feel like somewhere in Scotland (don’t ask me whether I ve been there or not)

By flight I arrived at Juanda Airport Surabaya at 11.30. setelah kurang lebih 20 menit, saya sampai di terminal Bungurasih. Alhamdulillah, sejak tadi saya ingin muntah naik bis Damri dari bandara Juanda. Tersangka utamanya adalah goyangan bus yang seperti odong-odong. Anak kecil di samping saya saja sudah 180 derajat berubah, yang semula riang dengan es krim ditangan sampai pucat pasi menahan gubakan isi perutnya. Beda sama seorang wanita ngejreng di samping saya. Dengan dandanan menor dan kaca mata hitam, saya sempat mengintip anunya..upps maksudnya, pesan yang ia tulis di SMS-nya. Begini kalau tidak salah, Mas Bambang, kalau kita ketemuan kira-kira istri Mas Bambang marah, Nda..?? Duh, terpaksa sekali saya menduga bahwa wanita di sebalah saya ini adalah PRT di Jakarta yang kesepian karena suaminya jadi TKW di Malaysia kemudian mencoba mencari selingkuhan baru.

Sampai di Bungurasih, suara calo-calo menggema. Saya serasa Tio Pakusadewo, berakting seolah-olah Bungurasih bagian dari jajahan saya. Saya mendongak biar para calo tak curiga saya yang baru pertama kali memasuki areanya. Saya selamat sampai di bis AKAS menuju Jember. Setelah memastikan bus akan melewati terminal probolinggo, saya simpan tas rangsel besar saya di kursi sebelah, biar tak ada orang yang berani mendudukinya dan saya dengan legawa hanya membayar Rp. 23.000 sekali jalan

Sampai di Probolinggo kira-kira jam 4. Hmm hampir putus hati saya. Konon, angkot menuju Cemoro Lawang di pundak Bromo hanya sampai jam 4. Mungkin kalau tidak ada badai yang merobohkan pohon-pohon di sisi jalan Pasuruan dan membuat bus AKAS yang saya tumpangi tersendat-sendat, saya pasti sudah sampai probolinggo jam 3. Alhamdulillah, ternyata masih ada yang menawarkan angkot ke Bromo, dan alhamdulillahnya lagi di dalam angkot tersebut sudah ada sepasang muda-mudi – seusia saya maksudnya. Seorang berkebangsaan Nepal, seorang lagi berkebangsaan Medan. Tanya punya tanya, mereka telah menunggu penumpang lainnya, yaitu SAYA, tak kurang dari 3 jam. Meski sudah 3 orang di dalam angkot, sang supir bergeming. Dia bilang, rugi lah kalau Cuma mengangkut 3 orang dengan tarif normal 25 ribu per orang. Ia mulai bernegosisasi bagaimana kalau kami bertiga membayar renteng 250 rb. Sang pria berkebangsaan Nepal, marah besar. Dia berteriak dengan ingris logat Indianya, Why now, after 3 hours waiting. I will stand still, I will try to give him a pressure katanya pada sang perempuan pasangannya. Aku senyum kecil di hati. Duuh pressure, Bandeng kali di pressure…

Akhirnya dengan berolah menjadi penengah aku bisa membuat angkot itu berangkat. 60 ribu seorang. Everyone deal, everyone happy but the Nepal Guy. Dan perjalanan menuju cemoro lawang ternikmati jauh lebih indah dari perjalanan ke puncak jawa barat. Alam yang bersahabat di dataran tinggi jawa timur itu masih perawan, rumah-rumah sederhana dikelilingi ladang kubis atau wortel. Ada banyak kabut yang bermain petakumpet di pekarangan rumah dan ladang. Sejuk yang menyejukkan dan dingin yang menghangatkan. Hmmm suatu saat saya ingin tinggal di salah satu rumah itu barang sebulan.

Sampai di cemoro lawang hampir jam 6. Sepi. Di sini, Kehidupan berakhir di jam 6 sore. Senyap, nanti agak malam sedikit akan ada lantunan suara mirip suara zikir dari pengeras suara mushola. Saya sempat bingung, para penduduk cemoro lawang mayoritas beragama Hindu, bagaimana mungkin ada Mushola yang melantunkan zikir dengan pengeras suara. Selidik punya selidik, ternyata pujian pada sang kholik dilantunkan dengan cara yang sama antara muslim dan pemeluk hindu di ranah jawa ini.

Hotel yang pertama dituju adalah hotel cemara indah. Hotel yang direkomendasikan banyak pengguna internet sekaligus hotel dimana angkot ke cemoro lawang berhenti. Pemandangannya luar biasa. Hotel Cemara Indah, terletak di sisi tebing yang menampilkan panorama lautan pasir, Bromo dan gunung Batok. Tapi, pemandangan itu hanya untuk kamar dengan rate 300 ribu. Untuk kamar yang ratenya 100 ribu, cukup dengan pemandangan bunga-bunga ranum merah muda dari gorden kain katun.

Akhirnya, mengikuti usulan supir angkot, saya dan kedua teman baru saya diantar ke homestay milik Pak Hartono persis di sebelah hotel cemara indah. 100 ribu untuk kamar yang jauh lebih layak dari kamar hotel cemara indah. Tak apalah. Toh di kamar ini tak kan ada aktivitas selain tidur.

Yah, memang tak akan ada aktivitas selain tidur. Di Homestay tak ada televisi, colokan listrik saja tak ada. Laptop yang saya bawa dari rumah dengan khayalan bisa menulis cerita sebagus laskar pelangi harus tetap dimatikan. Mau nyolokin listrik kemana?. Pun, dinginnya udara menusuk kalbu. Kasurnya pun menusuk otot. Kasur yang disediakan sama sekali tak memiliki daya membal. Tubuhku yang 85 Kg ini melesap dalam kasur tipis yang membusuk karena hawa dingin dataran tinggi Bromo ini. Tidur yang tak melelapkan. Jam 3.15, saya terbangun dari tidur tak lelap saya dikarenakan pegal otot tubuh yang kaku karena dingin udara dan lembab kasur melebihi ambang batas. Segelas Moccachino yang saya bawa dari rumah cukup menjadi pelipur lara dalam dingin udara pagi itu. Tapi, ketika mocahino tandas di bibir saya yang beku, saya segera mengenakan kupluk, syal dan sarung tangan. Keluar dari ruangan, saya serasa di New Zealand (again, don’t try to ask me whether saya udah kesana or not, TABU). Udara yang keluar dari hidung saya membentuk uap putih. Saya menikmati 10 menit sendiri di sepi cemoro lawang, hanya berteman uap putih dari mulut dan hidung saya. Setelah Pak Hartono mengetuk pintu para penghuni homestay yang lain, beberapa diantaranya kemudian bergabung bersama saya di halaman homestay. Salah satunya Mr. Takeshi, Japanese who had been travel around Indonesia for this 2 month. Dengan enggurisunya yang dame, dia berani traveru to java ne. Murai Bangdung, Soro, semarang, Surabaya dan Bromo, pake basu. Setelah itu, katanya dia mau ke Bali, lanjut ke giri airu. Syahdan, orang jepang lebih seneng giri airu daripada giri trawangan.

Jam 4, hardtop yang kami pesan seharga 100 rb per orang ke supir angkot tadi siang sudah menjemput. Saya dan dua teman saya satu angkot tadi sore langsung berada di satu hardtop. Takeshi memilih menggunakan motor ke puncak pananjakan yang suhunya mungkin 10 derajat. Tambah kagum aja saya sama nyali tuh orang. Dia juga bilang, nanti pulangnya dia akan jalan kaki dari Bromo, swimming in the ocean of sand, saya berseloroh. Dia tertawa, tapi saya tahu dia ngga ngerti maksudnya, mungkin saya harus merubah aksen ingris amerika saya sedikit. Anata wa swiminngu on e osiang of sanu desu.

Hardtop saya yang telah berisi tiga orang harus menjemput tiga orang penumpang lainnya. Satu keluarga dari Australia. Mariza, Simon dan their daughter. Tak banyak perbincangan di hardtop. Selain udara masih membeku, goyangan hardtop yang melewati jalan terjal menuju puncak pananjakan membuat kami harus berpegang teguh pada apapun yang bisa dipegang. Sampai di puncak jam 5 lewat, sudah ada lebih dari seratus orang berebut mencuri awal matahari terbit di sisi tempat yang telah disediakan. Kami termasuk yang terakhir tiba sehingga kami hanya bisa berdiri di belakang. Tapi cukuplah melihat matahari terbit sebagus itu. Terlebih ini adalah awal hari baru buat saya karena pagi itu bertepatan dengan satu hari sebelum usia saya genap sekian sekian. Actually this travel is a special birthday gift for me from myself.

Cuma 40 menit kami menikmati matahari terbit dari puncak bukit. Dari lautan cumulus nimbus di kejauhan, jingga matahari menyuarakan keriangan sekaligus kengerian. Seperti hidup setiap harinya, selalu menyediakan keriangan dan kengerian bergantian bahkan kadang bersamaan. Setelah dari pananjakan, hardtop kembali menuruni bukit dan menuju lautan pasir. Di tengah lautan pasir itu ternyata kami diturunkan karena dari sana kami harus berjalan sekitar 3 Km kemudian menaiki anak tangga 45 derajat kemiringan untuk sampai di bibir Bromo. Saya memilih paket mudah. Menggunakan kuda yang dibayar menggunakan voucher seharga 50 rb. Sempat saya berbohong sama sang pengangon kuda yang saya naiki. Kustiawan, sang pengangon dengan halus bilang ke saya, Mas Beratnya berapa? Saya yang sensitif terhadap pertanyaan tentang berat, balik bertanya. Memangnya kenapa Kus? Kuda ini maksimal menganggkut penumpang dengan berat 80 Kg. Saya menjawab halus, ooh saya beratnya 80 Kilo ko..kustiawan tersenyum, entah mengiyakan atau ia tak mau menampik rezeki. Tapi kata-kata Kustiawan berikut membuat saya ketar ketir. Iya Pak, kalau di atas 80 Kg kudanya akan berhenti di tengah jalan mendaki nanti..kustiawan menjawab pertanyaan saya berikutnya, hati saya mulai dagdigdug.

Kuda berjalan tertatih. Tubuh saya yang baru pertama kali menaiki kuda, kaku. Beberapa kali saya hampir terjatuh. Setelah setengah perjalanan baru saya tahu tipsnya menaiki kuda. Saya teringat pengalaman Jack Scully di Avatar, the key is connection. Jadilah saya elus-elus pundak sang kuda dan merasakan kenyamanan berada di pundaknya. Tubuh saya meluruh dinamis mengikut gerak tapak kuda menaiki jemari Bromo. Saya serasa terbang meliuk diantara floating islands di Planet of Pandora

(berlanjut.....)

Senin, 02 November 2009

Nila Setitik, Rusak Air Susu Dibalas Air Tuba Sebelanga

Jika kita menjadi korban Air Susu dibalas Air Tuba, kita punya banyak pilihan untuk membalas pelaku. Cara paling emosional adalah membalaskan sakit hati dengan menambahkan Nila di air tuba yang telah bercampur air susu. Biar rusak sekalian air susu sebelanga-nya. Air tuba dan Nila serupa tapi tak sama. Air tuba dibuat dari akar-akaran yang biasa digunakan orang-orang zaman dulu untuk meracuni ikan. Sedangkan Nila adalah ekstrak dari pohon perdu bernama sama, berwarna indigo dengan daya racun yang sama kuat. Nila untuk air tuba berarti membalas kebencian dengan kebencian. Nila dan air tuba sama-sama beracun, sama merugikan. Satu-satunya yang kita dapat dari cara ini adalah kelegaan emosi, dan itu juga beracun.

Cara lainnya adalah membuang-hilangkan air susu yang telah bercampur air tuba. Seluruhnya. Hingga hilang kebaikan, hilang keburukan. Mulai segala sesuatunya dari nol. Ini tentu bukan hal yang mudah. Terlebih otak kita didesain untuk tidak mudah lupa, meski sadar kita lupa, tapi otak bawah sadar kita menyimpannya untuk kemudian diingatkan kembali jika ada pemicu.

Cara yang paling ekstrim sulitnya dan merupakan tingkatan emosi tertinggi untuk membalas “air tuba membalas air susu” adalah menambahkan air susu sebanyak-banyaknya sebanyak-banyaknya. Tambahkan air susunya sebanyak mungkin hingga air tuba tak lagi punya dampak meracuni. Sulitnya, kita tidak tahu sampai berapa banyak air susu yang harus kita berikan agar tuba yang ada tak lagi punya taji. Puluhan kali bahkan ratusan kali lipat banyaknya air susu yang dibutuhkan, begitu juga dibutuhkan kebaikan yang sedemikian banyak untuk menetralkan keburukan orang lain.

Ekstrim sulitnya memang. Tapi, seorang rekan kerja saya pernah bercerita tentang pembantu rumahnya. Sang pembantu, ibu akhir empat puluhan, meratau ke Jakarta menjadi pembantu meninggalkan suami, anak dan tanah ibu. Mencuci baju sepatu, memasak nasi dan menumis bumbu. Ia lakukan semua karena sang suami di kampung bekerja tak menentu. Belasan tahun ia memeras keringat agar anak dan suaminya bisa makan layak mutu. Sampai suatu ketika ia menerima kabar bahwa sang suami telah menemukan wanita baru. Sang suami membela diri, ia tak tahan menahan nafsu. Sang pembantu pilu, kini ia telah dimadu. Perasaan sang pembantu tak menentu. Hatinya selayak diiris sembilu, seperti dibelah pandan berduri mundur maju. Hidupnya kemudian berantakan tak menentu. Hidup layu mati tak mau.

Berbulan ia selayak hantu, sampai kemudian ia memandang masalahnya dengan cara baru. Ia kembali ke kampung mendatangi suami dan sang madu. Memberikan tabungan hasilnya menjadi pembantu. Kepada suami, anak dan sang madu. Sang pembantu menemukan gairah baru. Ia tahu, ia lebih baik dari suami dan sang madu dengan mampu mengalahkan emosi diri yang menderu. Ia bilang ia akan mencoba membalas perlakuan sang suami yang tak tahu malu dengan kebaikan seputih air susu. Sebanyak yang ia mampu.

Ekstim sulitnya memang. Tapi jika seorang pembantu mampu. Saya juga pasti mampu. Asal saya mau.

Senin, 05 Oktober 2009

Menjadi Bujangan

Menjadi bujangan itu menarik, terlebih di era sekarang ini. Menarik minat orang untuk mencarikan jodoh, menarik orang untuk beranggapan miring dan menarik orang untuk berbasa-basi.

Sebut saja, atasan, atasan-nya atasan, teman kantor, teman-nya teman kantor, tetangga, tetangga-nya tetangga, dan lain-lain, berbondong-bondong hendak mencarikan jodoh. Belakangan justru teman satu kelompok belajar di kampus dan dilanjutkan dengan teman satu angkatan sekampus. Semakin banyak orang yang berkeinginan mencarikan jodoh seharusnya membuat saya berbangga karena itu berarti saya punya cukup kualitas untuk dicarikan jodoh. Saya, tentu tidak ingin menjodohkan seseorang yang punya reputasi buruk kepada teman, saudara apalagi keponakan, begitu juga orang-orang yang ingin mencarikan jodoh buat saya. Tapi semakin banyak orang yang mengutarakan keinginannya mencarikan jodoh semakin saya terbentur pada satu kesimpulan, se-desperate itukah saya, sehingga saya tak bisa mencari jodoh saya sendiri..? tapi, siapapun yang datang menawarkan jasa pencarian jodoh, saya akan sambut dengan senyum, siapa tahu memang dari ia-lah jodoh saya nanti datang.

Menjadi bujangan juga menarik orang berbasa-basi. Bahkan kadang kelewat batas basa-basinya sehingga basa-nya lenyap, dan hanya basi yang tersisa. Sebut saja, Udin, penjual martabak yang mangkal berhimpit dengan gerobak juz buah langganan saya. Dia pernah bilang begini suatu hari ketika saya menunggu pesanan juz saya selesai.
Sendiri aja Pak, biasanya sama anaknya..? bahasa terbasi seumur hidup saya, kapan dia pernah lihat saya nenteng anak ke tukang juz. Bagaimana dia bisa mencantumkan kata “biasanya” dalam kalimat sok dekatnya itu. Satu lagi, waktu saya cari parfum di counter parfum C&F di salah satu mall, sang pelayan wanita yang sedari tadi melayani pertanyaan kembali menyampaikan bahasa basinya. Tumben sendiri Pak, isterinya mana..? pertanyaan yang basi-masam-soktahu-lebay. Tapi, saya tidak tersinggung sama mereka. Saya anggap aja apa yang mereka utarakan sebagai doa buat saya, toh they do not know what they do not know, right..?
Belakangan, pertanyaan berikut disampaikan banyak orang, dari banyak arah mata angin bahkan. Win, kenapa ngga ikut take him out aja..? Sekalian masuk TV…Duuh, bagaimana pula menjawab pertanyaan suruhan ini. Akhirnya dengan sedikit berbohong saya bilang, Pak, Bu, Mas, Mba, sebenernya saya sudah ikut audisi, tapi gagal, mereka bilang kalau saya ikut, acaranya akan molor jadi 4 jam, karena dikhawatirkan tak ada satupun dari 20 wanita itu yang akan mematikan lampunya..dan mereka tercekat sampai sana. Ah, tak apa berbohong, cuma sedikit ko, lagian aku tak mau masuk TV, TV rumahku yang Cuma 14 inch mana bisa menampung tubuhku yang mesti telah susut tetap diatas 75 Kg

Selasa, 11 Agustus 2009

Sisa Ruang di Hatimu


Jika aku bahkan tak mampu mengisi separuh hatimu
Jangan salahkan dirimu
Aku yang masih belum mampu sebesar inginmu
Kalaupun kau biarkan aku menetap di paruh hatimu, dulu
Itu karena aku telah memaksamu menerimaku di sana
Melalui cintaku yang bertubi-tubi

Dan jika kini ada orang lain mengisi ruang sisa di paruh hatimu itu
Mungkin engkau tak layak merasa bersalah
Karena hatimu masih besar
Karena aku tak mampu memenuhinya
Dan ia telah datang padamu untuk memenuhinya, dengan indah yang tak mampu kuberikan

Jika aku marah padamu
Karena engkau telah menghianati janjimu sendiri
Mungkin itu salahku juga
Karena aku tak sebesar inginmu
Mungkin aku yang telah memaksamu memberi janji untuk memberi separuh hatimu hanya untukku saja

Padahal aku terlalu kecil untuk memenuhi ruang hatimu
Padahal engkau masih memerlukan orang lain untuk mengisi sisa ruang separuh hatimu
Dan jika kini aku tak mampu mengisi separuh hatimu
Aku tak tahu kapan aku bisa mengisinya penuh
Mungkin takkan pernah aku bisa memenuhinya
Waktu telah mengikis cintaku,
Hadirnya orang lain di hatimu menghimpitku hingga aku kerdilDan takkan mampu memenuhi inginmu

Senin, 10 Agustus 2009

KISAH BURUNG YANG SEBELAH SAYAPNYA PATAH

Awal pertemuanku dengannya berawal ketika musim hujan di salah satu café di senggigi. Senggigi lengang oleh wisatawan lokal, kebanyakan wisatawan adalah turis manca negara. Di jalan raya senggigi, puluhan café berjajar memenuhi sepenggal ruasnya, Beberapa café menampilkan suguhan life music bahkan beberapa diantaranya kerap menghadirkan penyanyi–penyanyi ibukota. Kutemui ia pada tengah malam saat bulan penuh, mungkin ia baru saja tiba dari Jakarta. Dengan rangsel besar ia masih berjalan sendiri di suasana malam yang mulai sunyi. Aku telah lama duduk di salah satu café menikmati semangkok sup ayam dan capucino hangat, ketika ia datang dengan lelah pada pundaknya. Duduk tak jauh dari tempatku. Ia sendiri dan aku sendiri, kami berbicara akrab kemudian.

Sejak pertemuan kami di senggigi kami telah saling mengenal jauh, Ia adalah burung dengan sayap yang patah ketika aku temukan. Dari semuanya ia, aku telah tertarik dan ingin memilikinya penuh karena ia burung mawar; rekahnya indah, terbangnya indah. Ia mampu melayari awan dengan putih hati.

Aku telah memperkenalkan padanya diriku saat itu sebagai apa yang aku rasai diriku saat itu. Sebagai burung yang juga patah sayapnya, sayapku luka sepanjang waktuku. Kami menemukan banyak kemiripan kesukaan. Ia menyampaikan bahwa ia ingin sepertiku, atas kisah-kisah yang aku alami, atas apa-apa yang telah kumiliki.

Maka kemudian kamipun terbang berdua melayari awan, dan laut. Kami kini telah menjadi pasangan burung yang patah sayapnya. Kami terbang dengan masing-masing satu sayap terkepak, sementara satu sayap lainnya kami rangkulkan satu sama lain. Saat terbang, kami tak pernah melihat ke depan, kami hanya saling menatap satu sama lain, melarutkan hati dan tak terasa laut Jawa, selat Sunda, selat Lombok semuanya terseberangi. Berdua.

Suatu kali kami pernah mengunjungi sebuah castil di daratan Italia, Piazza del castilo yang dibangun pada abad ke –14. Di sinilah pergulatan kami pertama terjadi dengan sisa tenaga yang terkuras selama melalui daratan dan lautan, pergulatan mampu menseskresikan keringat pada batas nadirnya hingga kami seperti bayi yang bermandikan keringat. Merasakan setiap inchi kulitnya, dan apa-apa pada tubuhnya. Dan semuanya bermuara pada rasa yang semakin membesar.

Sejak pergulatan selama dua jam di castil tersebut, ia telah seringkali mengatakan bahwa ia mencintaiku. Bahkan ia mencintai apa-apa yang kumiliki. Meski apa-apa yang kumiliki kerap menjadi hal yang terutamakan dibanding dengannya. Ia selalu bilang bahwa ia hadir setelah apa yang kumiliki sekarang, jadi ia memang semestinya lebih tidak berhak dari apa-apa yang telah kumiliki. Dan akupun telah mengatakan mencintainya melalui pesan singkat, mengatakan padanya bahwa aku tak ingin berpisah darinya. Aku sampaikan apa yang aku rasa saat itu karena aku memang mencintainya.

Dan pada suatu kali, aku telah menjanjikan padanya untuk menuju Rapolano Terme di Italia. Daerah yang kesemuanya seperti lukisan. Aku katakan padanya bahwa aku akan membawanya terbang melewati Bandara Leonardo da vinci, Roma. Kemudian sambil terbang menikmati hawa sejuk 16 derajat selsius, kami akan menikmati bau lahan pertanian yang siap ditanami anggur dan pohon zaitun. Dan ia seperti ia selalu, menyampaikan bahwa ia sangat bergembira dengan semua yang aku janjikan. Kemudian ia menjanjikan untuk membawakanku mantel tebal dari bulu angsa, permen peppermint penghangat tenggorokan dan lain-lain kebutuhan. Aku pun telah siap untuk kepergian kami itu.

Dan jalan hidup memang tak pernah terduga. Pada hari yang sama ketika kami telah berjanji untuk terbang, seseorang yang pernah mengisi hidupku sebelum ia datang, kini datang dengan keindahan tiada tara dengan dua sayap yang bertelekan permata. Ia menawariku untuk terbang menuju semua tempat dimana keajaiban dunia berada, dari Borobudur yang sejengkal, kemudian menara Pisa di roma, dan berakhir di Taj Mahal. Dan aku, mungkin seperti juga yang lain, telah menyerah untuk tergoda bersamanya. Terlebih makhluk yang kini menawariku adalah makhluk indah yang pernah mengisi hatiku. Aku terkaburkan, hendak apa yang kubilang pada ia yang telah bersiap ke Rapolano Terme. Aku telah lebih tertarik pada seseorang yang kini ada di depanku. Dan kemudian aku memilih menuju keajaiban dunia, meninggalkan ia dalam kesendirian. Tak perduli dengan ia yang telah mempersiapkan perjalanan ke Rapolano Terme yang saat ini tengah bersama kesendirian.

Tentang kesendirian ia pernah bercerita bahwa kesendirian adalah kekasih terindah sepanjang masa sebelum diriku tiba. Kesendirian adalah sosok yang sedia dimana pun ia membutuhkannnya, kesendirian adalah awan dan hujan, mendung dan kabut dan ia seringkali meracap dalam kesendiriannya. Ia begitu bersemangat ketika bercerita tentang kekasihnya itu. Namun ketika ia bertemu denganku di malam yang aku dan dirinya luka patah pada sayap, segalanya menjadi berubah tiba-tiba, ia yang bilang bahwa diriku adalah angannya yang hampir bermuara di laut, kesejukan pada senja di puncak bukit. Dan ia yang pemalu, terus menatapku dan menyentuhi jariku pada saat-saat dimana aku mengijinkannya untuk melakukan sesuatu yang lebih dari semua itu. Dan ia yang pemalu yang awalnya menawariku sebuah persahabatan, karena ia merasa hatinya telah tertambat pada kesendirian, tapi aku yang bilang padanya untuk lebih dari sekedar persahabatan dan sejak itu ia memang telah lebih dari sahabat bagiku.

Meski bagiku ia adalah pengabdian total, tapi jujur ritme hatiku, tak selalu menuju padanya entah mungkin karena memang ia juga memiliki kekurangan, atau memang takdirku untuk memikirkan hal lainnya selain ia dan pengabdiannya. Tapi, sejak aku mengenalnya, meski dengan sayap yang patah, kutahu bahwa ritme hatinya terus menanjak bagai bukit tanpa kabut pada siang tanpa temaran sinar mentari tertahan awan daratan tinggi. Tapi bila saja, aku telah memikirkan dirinya, aku tak ragu untuk mengatakan bahwa aku telah berdoa pada tuhan untuk tak memisahkannya dengan ku, memujinya dengan segala kelebihan yang faktanya ia punya, atau memanggilnya pada tengah malam, tapi, entahlah mungkin cinta memang terlalu misterius untuk dirasakan.

Dan, pada akhirnya aku terbang dengan dua sayapku, bersama bidadari lain yang juga bersayap dua, mengitari bumi menuju mayapada dimana keajaiban dunia berada, meninggalkan ia sendiri. Pada malam. Pada senja. Dan badai, mendung, kilatan terus bergemuruh, aku tahu ia pasti telah tersiksa. Ia pasti akan membuat puisi-puisi untukku.

Dan dari kejauhan aku merasai bahwa ia terus merindukanku karena mendung telah begitu dalam, tapi keajabian dunia telah menjadi magnet besar, juga seseorang yang kini telah terbang disampingku dengan sayap yang bertelekan permata. Aku terus mengembara, terbang lepas menuju segala keajaiban.

Sekembaliku, kutemukan jejak air mata pada semua tempat dimana dulu kami bersua, pada café-café di katajanoka, pada café Rasa di Senggigi, pada sisi pantai di Rio de Jenairo, pada pantai cofa cabana. Entah kemana ia, semuanya seperti telah tertelan bumi. Semuanya yang kutemui hanyalah jejak yang penuh dengan luka. Dan di satu rumah makan di Jakarta, tempat candle light pertama kami, tertulis sebuah puisi dengan inisial namanya dengan namaku.

Kalau bahu lapukmu tak sanggup
Memanggul beban hidup
Sandarkan deritamu, sandarkan
Pada lengan lembut langit
Pada dada lapang bintang-bintang

Hampir semua tempat kujelajahi dan aku sampai pada kesimpulan bahwa ia telah memaksa pergi menuju Rapolano Terme, tapi bagaimana mungkin, ia hanya memiliki sebelah sayap, sayap satunya telah patah dan belum pulih, bagaiamana mungkin ia terbang sejauh ini. Khawatirku atas dirinya menggunung dan aku tak bisa tidak memikirkannya, dan atas kekahawatiran itu aku terbang menyusulnya.

Di Serre Rapolano, dekat kompleks musium Grancia. Aku dan dia telah berada di sebuah meja makan besar khas abad pertengahan. Ia nampak layu dan kurus. Hidangan telah tersedia; Fagottino repieno, (ayam bumbu jeruk) Minestra di piselli, (sup kacang polong) biancomangiare (nasi ayam muda).

Maafkan saya, kataku
Ia masih tertunduk, pun ketika menatapku, tatapannya hampa
Aku adalah manusia yang menyerupai burung, dengan sayapku kupikir aku bisa terbang kemanapun aku suka.
Ia tetap terdiam, matanya berkaca
Bukan salahmu, jika engkau ingin menangis,..menangislah, airmata tercipta untuk menjadi pelepas gundah.
Ia hanya berkaca tak menangis
Sejak awal, aku hanya ingin persahabatan, Jawabnya datar

Tiba-tiba iringan arakan mengelilingi kami berdua, maialino di cinta sinese (daging babi panggang) akan disiapkan, dan dengan lantang setengah berteriak aku bilang. We don’t eat fork, maka arakan terhenti dan salah seorang yang pastinya kepala koki menghampiri kami, menundukan badannya berkali-kali, sambil meminta maaf dengan setulus-tulusnya.

Maafkan,..bila aku telah menyulitkanmu,..katanya

Cinta ini yang sebegitu besar adalah akumulasi dari rasa cinta yang hadir sebelum-sebelumnya yang tak pernah termuarakan. Maaf jika ia seperti gelombang yang terus menerpa hadirmu..maafkan.

Saya tahu dengan segala kekuranganku, engkau berhak memilih siapa-siapa yang menjadi teman terbangmu, baik di kala sayapmu patah, maupun ketika engkau tak memiliki sebelah sayap yang patah.

Dengan sebelah sayap yang patah aku tak mampu bersamamu terbang mengunjungi keajaiban-keajaiban, aku cuma punya ini ia mendekapkan tangannya ke dadanya.

Aku cuma bisa mengabdi padamu, pada semua yang engkau miliki. Tapi bila semua itu telah membuatmu tak penuh, maafkan saya…

Kalau begitu pulang lah bersamaku kataku

Cinta bukanlah selalu masalah objek, jikapun engkau tidak ada di dekatku, aku masih tetap akan mampu mencintai, karena cinta itu adalah kemampuan, pulanglah,.biarkan aku di sini sendiri, menikmati wangi zaitun di kala panen, bau anggur yang baru saja diperas, menikmati hangatnya senja, sendiri saja, sampai nanti sebelah sayapku akan pulih, atau mungkin tidak sama sekali.

Tapi engkau akan benar-benar sendiri di sini. Aku mengiba

Lalu…..?, Aku telah sendiri berabad sebelum engkau datang..

Setelah itu tak ada lagi percakapan, ia terus menunduk, sepi, hanya terdengar tetes airmatanya jatuh di lantai marker. Aku kelu, gamang, aku telah menyakiti hatinya,

Aku memutuskan meninggalkannya. Kalaupun aku membiarkannya sendiri, itu karena aku melihat kesungguhannya meminta padaku untuk membiarkannya sendiri dan bukan karena aku tidak lagi mencintainya, meski pada saat yang sama aku juga masih mencintai seseorang yang lain.
Aku pulang sendiri, ada luka yang baru saja tergores. Tapi apa yang bisa aku lakukan, ia adalah pemilik jiwanya, pun apa yang bisa aku janjikan padanya, cinta yang sebesar cintanya padaku,..aku masih punya bidadari dan kekasih yang menemaniku baik saat sayapku patah pun ketika sayapku tak lagi patah. Dan aku terbang melewati, lautan dan samudra, kembali ke Jakarta. Sambil sesekali mengingatnya, mengingat apa-apa yang telah ia tunjukan, apa apa yang ia telah lakukan dan apa apa yang ia telah berikan. Namun toh ia telah menetap di Rampolano Terme, tempat terindah dimana kesendirian berasal. Jadi kubiarkan ia bersama kekasihnya seperti juga kini aku telah bersama kekasihku.