Perjuangan belum selesai. Untuk sampai ke bibir Bromo, pengunjung harus menaiki anak tangga miring tajam. Rasanya mau mundur saja jika Simon dan anak perempuannya yang berumur 6 tahun tak ada di belakang saya menaiki anak tangga dengan semangat. Apalagi, di depan saya dalam arah pulang, ada seorang turis menggunakan kruk menuruni tangga tertatih. Ia pasti telah menaiki tangga yang sama seperti tangga yang saya naiki sekarang. Kalau dia yang cacat bisa, saya pasti bisa. Saya langsung memujinya, salut to you my man. Yang dipuji tersenyum dan memberi semangat saya untuk naik ke atas.
Dan saya akhirnya bisa sampai ke bibir Bromo. Kawah aktifnya tak henti mengeluarkan asap. Untung tak banyak uap belerang sehingga saya bisa berlama di sini, mengambil beberapa foto untuk diupload di facebook atau dikirimkan ke salah satu majalah ibukota atau untuk dikirimkan ke tim audisi take him out.
Puas dengan memandangi Bromo yang sedikit mengingatkan saya pada neraka kalau saya badung di dunia, saya merasa harus jujur kali ini. Tak ingin rasanya membohongi kustiawan dan pengangon kuda lainnya. Saya pun memilih untuk berjalan kaki pulang ke tempat hardtop kami di parkir. Letih, tapi tak ada pilihan. 4 Km lautan pasir menunggu di depan. Tapi, pemandangan sekitar Bromo tetap menjadi penghilang lelah yang ampuh.
Sampai di homestay pukul 8.30, rasanya dengkul ini butuh tambahan pelumas sekaligus tempurungnya. Beristirahat sebentar, Pak Hartono menjelaskan tempat-tempat lain yang bisa dikunjungi di sekitar Bromo. Saya tertarik. Ada pasir berbisik yang akan mengingatkan saya pada tempat pertemuan pertama saya dengan Dian Sastro. Di pasir berbisik inilah kami pertama kali bertemu. Dian di televisi sedang acting film pasir berbisik, saya di luar TV di sofa warna biru menyaksikan Dian melakoni anak suku tengger. Ada juga savanna, ranu pane dan coban pelangi. Di coban pelangi ini tempat shooting film reboundnya Tamara Blesynizki. Konon di film ini, Tamara rela diet ketat dan olah raga berat demi obral aurat.
Saya langsung bersemangat menelusuri kesemua tempat tersebut. Deal dengan salah satu tukang ojek kenalan Pak Hartono, 200 ribu bersih. Satu jam kemudian saya sudah siap mengarungi lautan pasir, bermain di savanna, ke ranu pane, cemoro lawang dan tembus ke Malang kota apel.
Perjalanan ruarr biasa. Melewati lautan pasir saya menjumpai beberapa warga tengger yang sedang mencari rumput. Wajah-wajah tanpa nafsu keduniawian. Kemudian saya menyempatkan mematung di savanna yang kata pengendara motor yang saya sewa seperti di teletubis. Entah karena pemandangannya atau karena pengunjungnya, saya maksudnya, yang membuat si tukang ojek mendapatkan ide tentang teletubis tersebut. Dari savanna yang menjadi rute para pendaki Semeru, Ion sang pengojek, mengantarkan saya melewati jalan yang kedua sisinya curam terjal. Sebelah kiri jurang, jurang di sebelah kanan. Tapi melewati perkampungan petani ranu pane membangunkan saya bahwa Indonesia memang harus mengembangkan agribisnis di negeri ini. Ini seperti apa yang ada di kepalanya Wati, Budi dan Iwan, sahabat waktu saya kecil yang saya kenal di buku paket.
Dari ranu pane, perjalanan menelusuri pemukiman warga tengger makin mengasikan. Ladang-ladang yang sedang disiangi berselimutkan kabut. Hawa dingin yang memberi kesejukkan membuat saya beberapa kali harus menepuk bahu Ion dan memintanya untuk mengambil gambar saya dengan gaya natural yang dibuat senatural mungkin. Next time kalau saya berniat ikut take him out, saya sudah punya banyak stok gambar.
Menuju coban pelangi, perjalanan harus membelah hutan hujan tropis. Berkilometer saya dan ion berboncengan tanpa bertemu seorangpun. Dan akhirnya saya sampai di coban pelangi. Ion hanya bisa mengantarkan saya ke gerbang loket, setelah itu saya menuruni bukit sampai di coban atau curug dalam bahasa sunda. Dalam perjalanan menuju coban saya bertemu banyak orang dan kesemuanya berpelukan mesra. Jangan-jangan coban ini memang untuk para pasangan. Bulu kuduk saya tiba-tiba merinding, saya seperti ditemani seseorang. Ayat kursi saya lantunkan, bulu kuduk saya mulai normal sambil terus berjalan menuju coban. Setelah turun naik licin kering daratan ditempuh, saya sampai juga di coban pelangi. Dengan tinggi kira-kira 50 meter, curug ini memiliki bentuk sempurna hanya saja aliran airnya tak cocok untuk mandi dan berendam. Alamnya masih terlalu liar dan tak ramah. Saya hanya bisa beristirahat sebentar, mengambil beberapa foto diri menggunakan kamera dan tangan sendiri, setelah itu kembali ke gerbang.
Dan benar saja, perjalanan kembali ke gerbang memerlukan energi yang jauh lebih berat. Saya sempat 5 kali beristirahat. Bulu kuduk saya kembali meremang di tempat pertama kali bulu kuduk saya berdiri. Lagi-lagi ayat kursi dilantunkan. Saya punya pengalaman mistis 14 tahun lalu di salah satu curug di bogor. Tak perlu lah saya ceritakan, nanti bisa jadi scenario film tamara berikutnya.
Sampai di gerbong Ion sudah siap mengantarkan saya ke Malang. Di gerbang ini juga saya bertemu dengan dua teman saya kemarin. Ternyata mereka terilhami oleh saya untuk juga mengunjungi tempat-tempat yang saya kunjungi, kecuali mereka mengurungkan keRanu Pane karena jalannya yang terjal. Beberapa menit kemudian kami konvoi melewati kebun-kebun apel yang buahnya baru saja menyembul. Beberapa sudah selesai panen dan masih tersisa, saya mampir sebentar memetik satu saja buahnya merasakan sensasi memetik apel langsung dari pohonnya, sensasi mimpi masa kecil.
Perjalanan 2 hari ini just about to end. Dari Terminal Malang saya naek bus menuju Bungurasih, 15 ribu saja, 2 jam perjalanan. Dari Bungurasih, saya naik taxi bertiga dengan mahasiswa Unibraw yang duduk di samping saya di bus. 50 ribu bertiga, 20 menit, sampai di Bandara Juanda pukul 17.45. Di Bandara Juanda, saya dikerubuti Calo tiket. Mereka tahu saya penumpang Go Show. Mereka menawarkan harga tiket 450 rb ke Jakarta. Saya selayak Tukul saat itu. Ndak mau tahu dan ngga mau denger para calo. Dari counter ke counter saya datangi untuk mencari tiket termurah dan terdekat jadwalnya dan pilihan itu jatuh pada Mandalaair. 508 ribu tanpa minum tanpa snack. Di ketinggian 33000 kaki saya kehausan dan terpaksa membeli jus apel 300 ml seharga 18 ribu.
Sampai di Jakarta pukul 19.45 WIB dengan nuansa baru. Matahari terbit di puncak bromo adalah saat saya menyadari bahwa masih akan ada keriangan baru dalam hidup saya. Tapi, saya juga harus berhati-hati melangkah. Jika tidak hidup hanya akan mencengkeram saya sewarna jingga kemerahan di puncak Pananjakan
Senin, 01 Februari 2010
Minggu, 31 Januari 2010
Birthday at Bromo Part 1
Bromo is a beautiful place. You will feel like somewhere in Scotland (don’t ask me whether I ve been there or not)
By flight I arrived at Juanda Airport Surabaya at 11.30. setelah kurang lebih 20 menit, saya sampai di terminal Bungurasih. Alhamdulillah, sejak tadi saya ingin muntah naik bis Damri dari bandara Juanda. Tersangka utamanya adalah goyangan bus yang seperti odong-odong. Anak kecil di samping saya saja sudah 180 derajat berubah, yang semula riang dengan es krim ditangan sampai pucat pasi menahan gubakan isi perutnya. Beda sama seorang wanita ngejreng di samping saya. Dengan dandanan menor dan kaca mata hitam, saya sempat mengintip anunya..upps maksudnya, pesan yang ia tulis di SMS-nya. Begini kalau tidak salah, Mas Bambang, kalau kita ketemuan kira-kira istri Mas Bambang marah, Nda..?? Duh, terpaksa sekali saya menduga bahwa wanita di sebalah saya ini adalah PRT di Jakarta yang kesepian karena suaminya jadi TKW di Malaysia kemudian mencoba mencari selingkuhan baru.
Sampai di Bungurasih, suara calo-calo menggema. Saya serasa Tio Pakusadewo, berakting seolah-olah Bungurasih bagian dari jajahan saya. Saya mendongak biar para calo tak curiga saya yang baru pertama kali memasuki areanya. Saya selamat sampai di bis AKAS menuju Jember. Setelah memastikan bus akan melewati terminal probolinggo, saya simpan tas rangsel besar saya di kursi sebelah, biar tak ada orang yang berani mendudukinya dan saya dengan legawa hanya membayar Rp. 23.000 sekali jalan
Sampai di Probolinggo kira-kira jam 4. Hmm hampir putus hati saya. Konon, angkot menuju Cemoro Lawang di pundak Bromo hanya sampai jam 4. Mungkin kalau tidak ada badai yang merobohkan pohon-pohon di sisi jalan Pasuruan dan membuat bus AKAS yang saya tumpangi tersendat-sendat, saya pasti sudah sampai probolinggo jam 3. Alhamdulillah, ternyata masih ada yang menawarkan angkot ke Bromo, dan alhamdulillahnya lagi di dalam angkot tersebut sudah ada sepasang muda-mudi – seusia saya maksudnya. Seorang berkebangsaan Nepal, seorang lagi berkebangsaan Medan. Tanya punya tanya, mereka telah menunggu penumpang lainnya, yaitu SAYA, tak kurang dari 3 jam. Meski sudah 3 orang di dalam angkot, sang supir bergeming. Dia bilang, rugi lah kalau Cuma mengangkut 3 orang dengan tarif normal 25 ribu per orang. Ia mulai bernegosisasi bagaimana kalau kami bertiga membayar renteng 250 rb. Sang pria berkebangsaan Nepal, marah besar. Dia berteriak dengan ingris logat Indianya, Why now, after 3 hours waiting. I will stand still, I will try to give him a pressure katanya pada sang perempuan pasangannya. Aku senyum kecil di hati. Duuh pressure, Bandeng kali di pressure…
Akhirnya dengan berolah menjadi penengah aku bisa membuat angkot itu berangkat. 60 ribu seorang. Everyone deal, everyone happy but the Nepal Guy. Dan perjalanan menuju cemoro lawang ternikmati jauh lebih indah dari perjalanan ke puncak jawa barat. Alam yang bersahabat di dataran tinggi jawa timur itu masih perawan, rumah-rumah sederhana dikelilingi ladang kubis atau wortel. Ada banyak kabut yang bermain petakumpet di pekarangan rumah dan ladang. Sejuk yang menyejukkan dan dingin yang menghangatkan. Hmmm suatu saat saya ingin tinggal di salah satu rumah itu barang sebulan.
Sampai di cemoro lawang hampir jam 6. Sepi. Di sini, Kehidupan berakhir di jam 6 sore. Senyap, nanti agak malam sedikit akan ada lantunan suara mirip suara zikir dari pengeras suara mushola. Saya sempat bingung, para penduduk cemoro lawang mayoritas beragama Hindu, bagaimana mungkin ada Mushola yang melantunkan zikir dengan pengeras suara. Selidik punya selidik, ternyata pujian pada sang kholik dilantunkan dengan cara yang sama antara muslim dan pemeluk hindu di ranah jawa ini.
Hotel yang pertama dituju adalah hotel cemara indah. Hotel yang direkomendasikan banyak pengguna internet sekaligus hotel dimana angkot ke cemoro lawang berhenti. Pemandangannya luar biasa. Hotel Cemara Indah, terletak di sisi tebing yang menampilkan panorama lautan pasir, Bromo dan gunung Batok. Tapi, pemandangan itu hanya untuk kamar dengan rate 300 ribu. Untuk kamar yang ratenya 100 ribu, cukup dengan pemandangan bunga-bunga ranum merah muda dari gorden kain katun.
Akhirnya, mengikuti usulan supir angkot, saya dan kedua teman baru saya diantar ke homestay milik Pak Hartono persis di sebelah hotel cemara indah. 100 ribu untuk kamar yang jauh lebih layak dari kamar hotel cemara indah. Tak apalah. Toh di kamar ini tak kan ada aktivitas selain tidur.
Yah, memang tak akan ada aktivitas selain tidur. Di Homestay tak ada televisi, colokan listrik saja tak ada. Laptop yang saya bawa dari rumah dengan khayalan bisa menulis cerita sebagus laskar pelangi harus tetap dimatikan. Mau nyolokin listrik kemana?. Pun, dinginnya udara menusuk kalbu. Kasurnya pun menusuk otot. Kasur yang disediakan sama sekali tak memiliki daya membal. Tubuhku yang 85 Kg ini melesap dalam kasur tipis yang membusuk karena hawa dingin dataran tinggi Bromo ini. Tidur yang tak melelapkan. Jam 3.15, saya terbangun dari tidur tak lelap saya dikarenakan pegal otot tubuh yang kaku karena dingin udara dan lembab kasur melebihi ambang batas. Segelas Moccachino yang saya bawa dari rumah cukup menjadi pelipur lara dalam dingin udara pagi itu. Tapi, ketika mocahino tandas di bibir saya yang beku, saya segera mengenakan kupluk, syal dan sarung tangan. Keluar dari ruangan, saya serasa di New Zealand (again, don’t try to ask me whether saya udah kesana or not, TABU). Udara yang keluar dari hidung saya membentuk uap putih. Saya menikmati 10 menit sendiri di sepi cemoro lawang, hanya berteman uap putih dari mulut dan hidung saya. Setelah Pak Hartono mengetuk pintu para penghuni homestay yang lain, beberapa diantaranya kemudian bergabung bersama saya di halaman homestay. Salah satunya Mr. Takeshi, Japanese who had been travel around Indonesia for this 2 month. Dengan enggurisunya yang dame, dia berani traveru to java ne. Murai Bangdung, Soro, semarang, Surabaya dan Bromo, pake basu. Setelah itu, katanya dia mau ke Bali, lanjut ke giri airu. Syahdan, orang jepang lebih seneng giri airu daripada giri trawangan.
Jam 4, hardtop yang kami pesan seharga 100 rb per orang ke supir angkot tadi siang sudah menjemput. Saya dan dua teman saya satu angkot tadi sore langsung berada di satu hardtop. Takeshi memilih menggunakan motor ke puncak pananjakan yang suhunya mungkin 10 derajat. Tambah kagum aja saya sama nyali tuh orang. Dia juga bilang, nanti pulangnya dia akan jalan kaki dari Bromo, swimming in the ocean of sand, saya berseloroh. Dia tertawa, tapi saya tahu dia ngga ngerti maksudnya, mungkin saya harus merubah aksen ingris amerika saya sedikit. Anata wa swiminngu on e osiang of sanu desu.
Hardtop saya yang telah berisi tiga orang harus menjemput tiga orang penumpang lainnya. Satu keluarga dari Australia. Mariza, Simon dan their daughter. Tak banyak perbincangan di hardtop. Selain udara masih membeku, goyangan hardtop yang melewati jalan terjal menuju puncak pananjakan membuat kami harus berpegang teguh pada apapun yang bisa dipegang. Sampai di puncak jam 5 lewat, sudah ada lebih dari seratus orang berebut mencuri awal matahari terbit di sisi tempat yang telah disediakan. Kami termasuk yang terakhir tiba sehingga kami hanya bisa berdiri di belakang. Tapi cukuplah melihat matahari terbit sebagus itu. Terlebih ini adalah awal hari baru buat saya karena pagi itu bertepatan dengan satu hari sebelum usia saya genap sekian sekian. Actually this travel is a special birthday gift for me from myself.
Cuma 40 menit kami menikmati matahari terbit dari puncak bukit. Dari lautan cumulus nimbus di kejauhan, jingga matahari menyuarakan keriangan sekaligus kengerian. Seperti hidup setiap harinya, selalu menyediakan keriangan dan kengerian bergantian bahkan kadang bersamaan. Setelah dari pananjakan, hardtop kembali menuruni bukit dan menuju lautan pasir. Di tengah lautan pasir itu ternyata kami diturunkan karena dari sana kami harus berjalan sekitar 3 Km kemudian menaiki anak tangga 45 derajat kemiringan untuk sampai di bibir Bromo. Saya memilih paket mudah. Menggunakan kuda yang dibayar menggunakan voucher seharga 50 rb. Sempat saya berbohong sama sang pengangon kuda yang saya naiki. Kustiawan, sang pengangon dengan halus bilang ke saya, Mas Beratnya berapa? Saya yang sensitif terhadap pertanyaan tentang berat, balik bertanya. Memangnya kenapa Kus? Kuda ini maksimal menganggkut penumpang dengan berat 80 Kg. Saya menjawab halus, ooh saya beratnya 80 Kilo ko..kustiawan tersenyum, entah mengiyakan atau ia tak mau menampik rezeki. Tapi kata-kata Kustiawan berikut membuat saya ketar ketir. Iya Pak, kalau di atas 80 Kg kudanya akan berhenti di tengah jalan mendaki nanti..kustiawan menjawab pertanyaan saya berikutnya, hati saya mulai dagdigdug.
Kuda berjalan tertatih. Tubuh saya yang baru pertama kali menaiki kuda, kaku. Beberapa kali saya hampir terjatuh. Setelah setengah perjalanan baru saya tahu tipsnya menaiki kuda. Saya teringat pengalaman Jack Scully di Avatar, the key is connection. Jadilah saya elus-elus pundak sang kuda dan merasakan kenyamanan berada di pundaknya. Tubuh saya meluruh dinamis mengikut gerak tapak kuda menaiki jemari Bromo. Saya serasa terbang meliuk diantara floating islands di Planet of Pandora
(berlanjut.....)
By flight I arrived at Juanda Airport Surabaya at 11.30. setelah kurang lebih 20 menit, saya sampai di terminal Bungurasih. Alhamdulillah, sejak tadi saya ingin muntah naik bis Damri dari bandara Juanda. Tersangka utamanya adalah goyangan bus yang seperti odong-odong. Anak kecil di samping saya saja sudah 180 derajat berubah, yang semula riang dengan es krim ditangan sampai pucat pasi menahan gubakan isi perutnya. Beda sama seorang wanita ngejreng di samping saya. Dengan dandanan menor dan kaca mata hitam, saya sempat mengintip anunya..upps maksudnya, pesan yang ia tulis di SMS-nya. Begini kalau tidak salah, Mas Bambang, kalau kita ketemuan kira-kira istri Mas Bambang marah, Nda..?? Duh, terpaksa sekali saya menduga bahwa wanita di sebalah saya ini adalah PRT di Jakarta yang kesepian karena suaminya jadi TKW di Malaysia kemudian mencoba mencari selingkuhan baru.
Sampai di Bungurasih, suara calo-calo menggema. Saya serasa Tio Pakusadewo, berakting seolah-olah Bungurasih bagian dari jajahan saya. Saya mendongak biar para calo tak curiga saya yang baru pertama kali memasuki areanya. Saya selamat sampai di bis AKAS menuju Jember. Setelah memastikan bus akan melewati terminal probolinggo, saya simpan tas rangsel besar saya di kursi sebelah, biar tak ada orang yang berani mendudukinya dan saya dengan legawa hanya membayar Rp. 23.000 sekali jalan
Sampai di Probolinggo kira-kira jam 4. Hmm hampir putus hati saya. Konon, angkot menuju Cemoro Lawang di pundak Bromo hanya sampai jam 4. Mungkin kalau tidak ada badai yang merobohkan pohon-pohon di sisi jalan Pasuruan dan membuat bus AKAS yang saya tumpangi tersendat-sendat, saya pasti sudah sampai probolinggo jam 3. Alhamdulillah, ternyata masih ada yang menawarkan angkot ke Bromo, dan alhamdulillahnya lagi di dalam angkot tersebut sudah ada sepasang muda-mudi – seusia saya maksudnya. Seorang berkebangsaan Nepal, seorang lagi berkebangsaan Medan. Tanya punya tanya, mereka telah menunggu penumpang lainnya, yaitu SAYA, tak kurang dari 3 jam. Meski sudah 3 orang di dalam angkot, sang supir bergeming. Dia bilang, rugi lah kalau Cuma mengangkut 3 orang dengan tarif normal 25 ribu per orang. Ia mulai bernegosisasi bagaimana kalau kami bertiga membayar renteng 250 rb. Sang pria berkebangsaan Nepal, marah besar. Dia berteriak dengan ingris logat Indianya, Why now, after 3 hours waiting. I will stand still, I will try to give him a pressure katanya pada sang perempuan pasangannya. Aku senyum kecil di hati. Duuh pressure, Bandeng kali di pressure…
Akhirnya dengan berolah menjadi penengah aku bisa membuat angkot itu berangkat. 60 ribu seorang. Everyone deal, everyone happy but the Nepal Guy. Dan perjalanan menuju cemoro lawang ternikmati jauh lebih indah dari perjalanan ke puncak jawa barat. Alam yang bersahabat di dataran tinggi jawa timur itu masih perawan, rumah-rumah sederhana dikelilingi ladang kubis atau wortel. Ada banyak kabut yang bermain petakumpet di pekarangan rumah dan ladang. Sejuk yang menyejukkan dan dingin yang menghangatkan. Hmmm suatu saat saya ingin tinggal di salah satu rumah itu barang sebulan.
Sampai di cemoro lawang hampir jam 6. Sepi. Di sini, Kehidupan berakhir di jam 6 sore. Senyap, nanti agak malam sedikit akan ada lantunan suara mirip suara zikir dari pengeras suara mushola. Saya sempat bingung, para penduduk cemoro lawang mayoritas beragama Hindu, bagaimana mungkin ada Mushola yang melantunkan zikir dengan pengeras suara. Selidik punya selidik, ternyata pujian pada sang kholik dilantunkan dengan cara yang sama antara muslim dan pemeluk hindu di ranah jawa ini.
Hotel yang pertama dituju adalah hotel cemara indah. Hotel yang direkomendasikan banyak pengguna internet sekaligus hotel dimana angkot ke cemoro lawang berhenti. Pemandangannya luar biasa. Hotel Cemara Indah, terletak di sisi tebing yang menampilkan panorama lautan pasir, Bromo dan gunung Batok. Tapi, pemandangan itu hanya untuk kamar dengan rate 300 ribu. Untuk kamar yang ratenya 100 ribu, cukup dengan pemandangan bunga-bunga ranum merah muda dari gorden kain katun.
Akhirnya, mengikuti usulan supir angkot, saya dan kedua teman baru saya diantar ke homestay milik Pak Hartono persis di sebelah hotel cemara indah. 100 ribu untuk kamar yang jauh lebih layak dari kamar hotel cemara indah. Tak apalah. Toh di kamar ini tak kan ada aktivitas selain tidur.
Yah, memang tak akan ada aktivitas selain tidur. Di Homestay tak ada televisi, colokan listrik saja tak ada. Laptop yang saya bawa dari rumah dengan khayalan bisa menulis cerita sebagus laskar pelangi harus tetap dimatikan. Mau nyolokin listrik kemana?. Pun, dinginnya udara menusuk kalbu. Kasurnya pun menusuk otot. Kasur yang disediakan sama sekali tak memiliki daya membal. Tubuhku yang 85 Kg ini melesap dalam kasur tipis yang membusuk karena hawa dingin dataran tinggi Bromo ini. Tidur yang tak melelapkan. Jam 3.15, saya terbangun dari tidur tak lelap saya dikarenakan pegal otot tubuh yang kaku karena dingin udara dan lembab kasur melebihi ambang batas. Segelas Moccachino yang saya bawa dari rumah cukup menjadi pelipur lara dalam dingin udara pagi itu. Tapi, ketika mocahino tandas di bibir saya yang beku, saya segera mengenakan kupluk, syal dan sarung tangan. Keluar dari ruangan, saya serasa di New Zealand (again, don’t try to ask me whether saya udah kesana or not, TABU). Udara yang keluar dari hidung saya membentuk uap putih. Saya menikmati 10 menit sendiri di sepi cemoro lawang, hanya berteman uap putih dari mulut dan hidung saya. Setelah Pak Hartono mengetuk pintu para penghuni homestay yang lain, beberapa diantaranya kemudian bergabung bersama saya di halaman homestay. Salah satunya Mr. Takeshi, Japanese who had been travel around Indonesia for this 2 month. Dengan enggurisunya yang dame, dia berani traveru to java ne. Murai Bangdung, Soro, semarang, Surabaya dan Bromo, pake basu. Setelah itu, katanya dia mau ke Bali, lanjut ke giri airu. Syahdan, orang jepang lebih seneng giri airu daripada giri trawangan.
Jam 4, hardtop yang kami pesan seharga 100 rb per orang ke supir angkot tadi siang sudah menjemput. Saya dan dua teman saya satu angkot tadi sore langsung berada di satu hardtop. Takeshi memilih menggunakan motor ke puncak pananjakan yang suhunya mungkin 10 derajat. Tambah kagum aja saya sama nyali tuh orang. Dia juga bilang, nanti pulangnya dia akan jalan kaki dari Bromo, swimming in the ocean of sand, saya berseloroh. Dia tertawa, tapi saya tahu dia ngga ngerti maksudnya, mungkin saya harus merubah aksen ingris amerika saya sedikit. Anata wa swiminngu on e osiang of sanu desu.
Hardtop saya yang telah berisi tiga orang harus menjemput tiga orang penumpang lainnya. Satu keluarga dari Australia. Mariza, Simon dan their daughter. Tak banyak perbincangan di hardtop. Selain udara masih membeku, goyangan hardtop yang melewati jalan terjal menuju puncak pananjakan membuat kami harus berpegang teguh pada apapun yang bisa dipegang. Sampai di puncak jam 5 lewat, sudah ada lebih dari seratus orang berebut mencuri awal matahari terbit di sisi tempat yang telah disediakan. Kami termasuk yang terakhir tiba sehingga kami hanya bisa berdiri di belakang. Tapi cukuplah melihat matahari terbit sebagus itu. Terlebih ini adalah awal hari baru buat saya karena pagi itu bertepatan dengan satu hari sebelum usia saya genap sekian sekian. Actually this travel is a special birthday gift for me from myself.
Cuma 40 menit kami menikmati matahari terbit dari puncak bukit. Dari lautan cumulus nimbus di kejauhan, jingga matahari menyuarakan keriangan sekaligus kengerian. Seperti hidup setiap harinya, selalu menyediakan keriangan dan kengerian bergantian bahkan kadang bersamaan. Setelah dari pananjakan, hardtop kembali menuruni bukit dan menuju lautan pasir. Di tengah lautan pasir itu ternyata kami diturunkan karena dari sana kami harus berjalan sekitar 3 Km kemudian menaiki anak tangga 45 derajat kemiringan untuk sampai di bibir Bromo. Saya memilih paket mudah. Menggunakan kuda yang dibayar menggunakan voucher seharga 50 rb. Sempat saya berbohong sama sang pengangon kuda yang saya naiki. Kustiawan, sang pengangon dengan halus bilang ke saya, Mas Beratnya berapa? Saya yang sensitif terhadap pertanyaan tentang berat, balik bertanya. Memangnya kenapa Kus? Kuda ini maksimal menganggkut penumpang dengan berat 80 Kg. Saya menjawab halus, ooh saya beratnya 80 Kilo ko..kustiawan tersenyum, entah mengiyakan atau ia tak mau menampik rezeki. Tapi kata-kata Kustiawan berikut membuat saya ketar ketir. Iya Pak, kalau di atas 80 Kg kudanya akan berhenti di tengah jalan mendaki nanti..kustiawan menjawab pertanyaan saya berikutnya, hati saya mulai dagdigdug.
Kuda berjalan tertatih. Tubuh saya yang baru pertama kali menaiki kuda, kaku. Beberapa kali saya hampir terjatuh. Setelah setengah perjalanan baru saya tahu tipsnya menaiki kuda. Saya teringat pengalaman Jack Scully di Avatar, the key is connection. Jadilah saya elus-elus pundak sang kuda dan merasakan kenyamanan berada di pundaknya. Tubuh saya meluruh dinamis mengikut gerak tapak kuda menaiki jemari Bromo. Saya serasa terbang meliuk diantara floating islands di Planet of Pandora
(berlanjut.....)
Senin, 02 November 2009
Nila Setitik, Rusak Air Susu Dibalas Air Tuba Sebelanga
Jika kita menjadi korban Air Susu dibalas Air Tuba, kita punya banyak pilihan untuk membalas pelaku. Cara paling emosional adalah membalaskan sakit hati dengan menambahkan Nila di air tuba yang telah bercampur air susu. Biar rusak sekalian air susu sebelanga-nya. Air tuba dan Nila serupa tapi tak sama. Air tuba dibuat dari akar-akaran yang biasa digunakan orang-orang zaman dulu untuk meracuni ikan. Sedangkan Nila adalah ekstrak dari pohon perdu bernama sama, berwarna indigo dengan daya racun yang sama kuat. Nila untuk air tuba berarti membalas kebencian dengan kebencian. Nila dan air tuba sama-sama beracun, sama merugikan. Satu-satunya yang kita dapat dari cara ini adalah kelegaan emosi, dan itu juga beracun.
Cara lainnya adalah membuang-hilangkan air susu yang telah bercampur air tuba. Seluruhnya. Hingga hilang kebaikan, hilang keburukan. Mulai segala sesuatunya dari nol. Ini tentu bukan hal yang mudah. Terlebih otak kita didesain untuk tidak mudah lupa, meski sadar kita lupa, tapi otak bawah sadar kita menyimpannya untuk kemudian diingatkan kembali jika ada pemicu.
Cara yang paling ekstrim sulitnya dan merupakan tingkatan emosi tertinggi untuk membalas “air tuba membalas air susu” adalah menambahkan air susu sebanyak-banyaknya sebanyak-banyaknya. Tambahkan air susunya sebanyak mungkin hingga air tuba tak lagi punya dampak meracuni. Sulitnya, kita tidak tahu sampai berapa banyak air susu yang harus kita berikan agar tuba yang ada tak lagi punya taji. Puluhan kali bahkan ratusan kali lipat banyaknya air susu yang dibutuhkan, begitu juga dibutuhkan kebaikan yang sedemikian banyak untuk menetralkan keburukan orang lain.
Ekstrim sulitnya memang. Tapi, seorang rekan kerja saya pernah bercerita tentang pembantu rumahnya. Sang pembantu, ibu akhir empat puluhan, meratau ke Jakarta menjadi pembantu meninggalkan suami, anak dan tanah ibu. Mencuci baju sepatu, memasak nasi dan menumis bumbu. Ia lakukan semua karena sang suami di kampung bekerja tak menentu. Belasan tahun ia memeras keringat agar anak dan suaminya bisa makan layak mutu. Sampai suatu ketika ia menerima kabar bahwa sang suami telah menemukan wanita baru. Sang suami membela diri, ia tak tahan menahan nafsu. Sang pembantu pilu, kini ia telah dimadu. Perasaan sang pembantu tak menentu. Hatinya selayak diiris sembilu, seperti dibelah pandan berduri mundur maju. Hidupnya kemudian berantakan tak menentu. Hidup layu mati tak mau.
Berbulan ia selayak hantu, sampai kemudian ia memandang masalahnya dengan cara baru. Ia kembali ke kampung mendatangi suami dan sang madu. Memberikan tabungan hasilnya menjadi pembantu. Kepada suami, anak dan sang madu. Sang pembantu menemukan gairah baru. Ia tahu, ia lebih baik dari suami dan sang madu dengan mampu mengalahkan emosi diri yang menderu. Ia bilang ia akan mencoba membalas perlakuan sang suami yang tak tahu malu dengan kebaikan seputih air susu. Sebanyak yang ia mampu.
Ekstim sulitnya memang. Tapi jika seorang pembantu mampu. Saya juga pasti mampu. Asal saya mau.
Cara lainnya adalah membuang-hilangkan air susu yang telah bercampur air tuba. Seluruhnya. Hingga hilang kebaikan, hilang keburukan. Mulai segala sesuatunya dari nol. Ini tentu bukan hal yang mudah. Terlebih otak kita didesain untuk tidak mudah lupa, meski sadar kita lupa, tapi otak bawah sadar kita menyimpannya untuk kemudian diingatkan kembali jika ada pemicu.
Cara yang paling ekstrim sulitnya dan merupakan tingkatan emosi tertinggi untuk membalas “air tuba membalas air susu” adalah menambahkan air susu sebanyak-banyaknya sebanyak-banyaknya. Tambahkan air susunya sebanyak mungkin hingga air tuba tak lagi punya dampak meracuni. Sulitnya, kita tidak tahu sampai berapa banyak air susu yang harus kita berikan agar tuba yang ada tak lagi punya taji. Puluhan kali bahkan ratusan kali lipat banyaknya air susu yang dibutuhkan, begitu juga dibutuhkan kebaikan yang sedemikian banyak untuk menetralkan keburukan orang lain.
Ekstrim sulitnya memang. Tapi, seorang rekan kerja saya pernah bercerita tentang pembantu rumahnya. Sang pembantu, ibu akhir empat puluhan, meratau ke Jakarta menjadi pembantu meninggalkan suami, anak dan tanah ibu. Mencuci baju sepatu, memasak nasi dan menumis bumbu. Ia lakukan semua karena sang suami di kampung bekerja tak menentu. Belasan tahun ia memeras keringat agar anak dan suaminya bisa makan layak mutu. Sampai suatu ketika ia menerima kabar bahwa sang suami telah menemukan wanita baru. Sang suami membela diri, ia tak tahan menahan nafsu. Sang pembantu pilu, kini ia telah dimadu. Perasaan sang pembantu tak menentu. Hatinya selayak diiris sembilu, seperti dibelah pandan berduri mundur maju. Hidupnya kemudian berantakan tak menentu. Hidup layu mati tak mau.
Berbulan ia selayak hantu, sampai kemudian ia memandang masalahnya dengan cara baru. Ia kembali ke kampung mendatangi suami dan sang madu. Memberikan tabungan hasilnya menjadi pembantu. Kepada suami, anak dan sang madu. Sang pembantu menemukan gairah baru. Ia tahu, ia lebih baik dari suami dan sang madu dengan mampu mengalahkan emosi diri yang menderu. Ia bilang ia akan mencoba membalas perlakuan sang suami yang tak tahu malu dengan kebaikan seputih air susu. Sebanyak yang ia mampu.
Ekstim sulitnya memang. Tapi jika seorang pembantu mampu. Saya juga pasti mampu. Asal saya mau.
Senin, 05 Oktober 2009
Menjadi Bujangan
Menjadi bujangan itu menarik, terlebih di era sekarang ini. Menarik minat orang untuk mencarikan jodoh, menarik orang untuk beranggapan miring dan menarik orang untuk berbasa-basi.
Sebut saja, atasan, atasan-nya atasan, teman kantor, teman-nya teman kantor, tetangga, tetangga-nya tetangga, dan lain-lain, berbondong-bondong hendak mencarikan jodoh. Belakangan justru teman satu kelompok belajar di kampus dan dilanjutkan dengan teman satu angkatan sekampus. Semakin banyak orang yang berkeinginan mencarikan jodoh seharusnya membuat saya berbangga karena itu berarti saya punya cukup kualitas untuk dicarikan jodoh. Saya, tentu tidak ingin menjodohkan seseorang yang punya reputasi buruk kepada teman, saudara apalagi keponakan, begitu juga orang-orang yang ingin mencarikan jodoh buat saya. Tapi semakin banyak orang yang mengutarakan keinginannya mencarikan jodoh semakin saya terbentur pada satu kesimpulan, se-desperate itukah saya, sehingga saya tak bisa mencari jodoh saya sendiri..? tapi, siapapun yang datang menawarkan jasa pencarian jodoh, saya akan sambut dengan senyum, siapa tahu memang dari ia-lah jodoh saya nanti datang.
Menjadi bujangan juga menarik orang berbasa-basi. Bahkan kadang kelewat batas basa-basinya sehingga basa-nya lenyap, dan hanya basi yang tersisa. Sebut saja, Udin, penjual martabak yang mangkal berhimpit dengan gerobak juz buah langganan saya. Dia pernah bilang begini suatu hari ketika saya menunggu pesanan juz saya selesai.
Sendiri aja Pak, biasanya sama anaknya..? bahasa terbasi seumur hidup saya, kapan dia pernah lihat saya nenteng anak ke tukang juz. Bagaimana dia bisa mencantumkan kata “biasanya” dalam kalimat sok dekatnya itu. Satu lagi, waktu saya cari parfum di counter parfum C&F di salah satu mall, sang pelayan wanita yang sedari tadi melayani pertanyaan kembali menyampaikan bahasa basinya. Tumben sendiri Pak, isterinya mana..? pertanyaan yang basi-masam-soktahu-lebay. Tapi, saya tidak tersinggung sama mereka. Saya anggap aja apa yang mereka utarakan sebagai doa buat saya, toh they do not know what they do not know, right..?
Belakangan, pertanyaan berikut disampaikan banyak orang, dari banyak arah mata angin bahkan. Win, kenapa ngga ikut take him out aja..? Sekalian masuk TV…Duuh, bagaimana pula menjawab pertanyaan suruhan ini. Akhirnya dengan sedikit berbohong saya bilang, Pak, Bu, Mas, Mba, sebenernya saya sudah ikut audisi, tapi gagal, mereka bilang kalau saya ikut, acaranya akan molor jadi 4 jam, karena dikhawatirkan tak ada satupun dari 20 wanita itu yang akan mematikan lampunya..dan mereka tercekat sampai sana. Ah, tak apa berbohong, cuma sedikit ko, lagian aku tak mau masuk TV, TV rumahku yang Cuma 14 inch mana bisa menampung tubuhku yang mesti telah susut tetap diatas 75 Kg
Sebut saja, atasan, atasan-nya atasan, teman kantor, teman-nya teman kantor, tetangga, tetangga-nya tetangga, dan lain-lain, berbondong-bondong hendak mencarikan jodoh. Belakangan justru teman satu kelompok belajar di kampus dan dilanjutkan dengan teman satu angkatan sekampus. Semakin banyak orang yang berkeinginan mencarikan jodoh seharusnya membuat saya berbangga karena itu berarti saya punya cukup kualitas untuk dicarikan jodoh. Saya, tentu tidak ingin menjodohkan seseorang yang punya reputasi buruk kepada teman, saudara apalagi keponakan, begitu juga orang-orang yang ingin mencarikan jodoh buat saya. Tapi semakin banyak orang yang mengutarakan keinginannya mencarikan jodoh semakin saya terbentur pada satu kesimpulan, se-desperate itukah saya, sehingga saya tak bisa mencari jodoh saya sendiri..? tapi, siapapun yang datang menawarkan jasa pencarian jodoh, saya akan sambut dengan senyum, siapa tahu memang dari ia-lah jodoh saya nanti datang.
Menjadi bujangan juga menarik orang berbasa-basi. Bahkan kadang kelewat batas basa-basinya sehingga basa-nya lenyap, dan hanya basi yang tersisa. Sebut saja, Udin, penjual martabak yang mangkal berhimpit dengan gerobak juz buah langganan saya. Dia pernah bilang begini suatu hari ketika saya menunggu pesanan juz saya selesai.
Sendiri aja Pak, biasanya sama anaknya..? bahasa terbasi seumur hidup saya, kapan dia pernah lihat saya nenteng anak ke tukang juz. Bagaimana dia bisa mencantumkan kata “biasanya” dalam kalimat sok dekatnya itu. Satu lagi, waktu saya cari parfum di counter parfum C&F di salah satu mall, sang pelayan wanita yang sedari tadi melayani pertanyaan kembali menyampaikan bahasa basinya. Tumben sendiri Pak, isterinya mana..? pertanyaan yang basi-masam-soktahu-lebay. Tapi, saya tidak tersinggung sama mereka. Saya anggap aja apa yang mereka utarakan sebagai doa buat saya, toh they do not know what they do not know, right..?
Belakangan, pertanyaan berikut disampaikan banyak orang, dari banyak arah mata angin bahkan. Win, kenapa ngga ikut take him out aja..? Sekalian masuk TV…Duuh, bagaimana pula menjawab pertanyaan suruhan ini. Akhirnya dengan sedikit berbohong saya bilang, Pak, Bu, Mas, Mba, sebenernya saya sudah ikut audisi, tapi gagal, mereka bilang kalau saya ikut, acaranya akan molor jadi 4 jam, karena dikhawatirkan tak ada satupun dari 20 wanita itu yang akan mematikan lampunya..dan mereka tercekat sampai sana. Ah, tak apa berbohong, cuma sedikit ko, lagian aku tak mau masuk TV, TV rumahku yang Cuma 14 inch mana bisa menampung tubuhku yang mesti telah susut tetap diatas 75 Kg
Selasa, 11 Agustus 2009
Sisa Ruang di Hatimu

Jika aku bahkan tak mampu mengisi separuh hatimu
Jangan salahkan dirimu
Aku yang masih belum mampu sebesar inginmu
Kalaupun kau biarkan aku menetap di paruh hatimu, dulu
Itu karena aku telah memaksamu menerimaku di sana
Melalui cintaku yang bertubi-tubi
Dan jika kini ada orang lain mengisi ruang sisa di paruh hatimu itu
Mungkin engkau tak layak merasa bersalah
Karena hatimu masih besar
Karena aku tak mampu memenuhinya
Dan ia telah datang padamu untuk memenuhinya, dengan indah yang tak mampu kuberikan
Jika aku marah padamu
Karena engkau telah menghianati janjimu sendiri
Mungkin itu salahku juga
Karena aku tak sebesar inginmu
Mungkin aku yang telah memaksamu memberi janji untuk memberi separuh hatimu hanya untukku saja
Padahal aku terlalu kecil untuk memenuhi ruang hatimu
Padahal engkau masih memerlukan orang lain untuk mengisi sisa ruang separuh hatimu
Dan jika kini aku tak mampu mengisi separuh hatimu
Aku tak tahu kapan aku bisa mengisinya penuh
Mungkin takkan pernah aku bisa memenuhinya
Waktu telah mengikis cintaku,
Hadirnya orang lain di hatimu menghimpitku hingga aku kerdilDan takkan mampu memenuhi inginmu
Jangan salahkan dirimu
Aku yang masih belum mampu sebesar inginmu
Kalaupun kau biarkan aku menetap di paruh hatimu, dulu
Itu karena aku telah memaksamu menerimaku di sana
Melalui cintaku yang bertubi-tubi
Dan jika kini ada orang lain mengisi ruang sisa di paruh hatimu itu
Mungkin engkau tak layak merasa bersalah
Karena hatimu masih besar
Karena aku tak mampu memenuhinya
Dan ia telah datang padamu untuk memenuhinya, dengan indah yang tak mampu kuberikan
Jika aku marah padamu
Karena engkau telah menghianati janjimu sendiri
Mungkin itu salahku juga
Karena aku tak sebesar inginmu
Mungkin aku yang telah memaksamu memberi janji untuk memberi separuh hatimu hanya untukku saja
Padahal aku terlalu kecil untuk memenuhi ruang hatimu
Padahal engkau masih memerlukan orang lain untuk mengisi sisa ruang separuh hatimu
Dan jika kini aku tak mampu mengisi separuh hatimu
Aku tak tahu kapan aku bisa mengisinya penuh
Mungkin takkan pernah aku bisa memenuhinya
Waktu telah mengikis cintaku,
Hadirnya orang lain di hatimu menghimpitku hingga aku kerdilDan takkan mampu memenuhi inginmu
Senin, 10 Agustus 2009
KISAH BURUNG YANG SEBELAH SAYAPNYA PATAH
Awal pertemuanku dengannya berawal ketika musim hujan di salah satu café di senggigi. Senggigi lengang oleh wisatawan lokal, kebanyakan wisatawan adalah turis manca negara. Di jalan raya senggigi, puluhan café berjajar memenuhi sepenggal ruasnya, Beberapa café menampilkan suguhan life music bahkan beberapa diantaranya kerap menghadirkan penyanyi–penyanyi ibukota. Kutemui ia pada tengah malam saat bulan penuh, mungkin ia baru saja tiba dari Jakarta. Dengan rangsel besar ia masih berjalan sendiri di suasana malam yang mulai sunyi. Aku telah lama duduk di salah satu café menikmati semangkok sup ayam dan capucino hangat, ketika ia datang dengan lelah pada pundaknya. Duduk tak jauh dari tempatku. Ia sendiri dan aku sendiri, kami berbicara akrab kemudian.
Sejak pertemuan kami di senggigi kami telah saling mengenal jauh, Ia adalah burung dengan sayap yang patah ketika aku temukan. Dari semuanya ia, aku telah tertarik dan ingin memilikinya penuh karena ia burung mawar; rekahnya indah, terbangnya indah. Ia mampu melayari awan dengan putih hati.
Aku telah memperkenalkan padanya diriku saat itu sebagai apa yang aku rasai diriku saat itu. Sebagai burung yang juga patah sayapnya, sayapku luka sepanjang waktuku. Kami menemukan banyak kemiripan kesukaan. Ia menyampaikan bahwa ia ingin sepertiku, atas kisah-kisah yang aku alami, atas apa-apa yang telah kumiliki.
Maka kemudian kamipun terbang berdua melayari awan, dan laut. Kami kini telah menjadi pasangan burung yang patah sayapnya. Kami terbang dengan masing-masing satu sayap terkepak, sementara satu sayap lainnya kami rangkulkan satu sama lain. Saat terbang, kami tak pernah melihat ke depan, kami hanya saling menatap satu sama lain, melarutkan hati dan tak terasa laut Jawa, selat Sunda, selat Lombok semuanya terseberangi. Berdua.
Suatu kali kami pernah mengunjungi sebuah castil di daratan Italia, Piazza del castilo yang dibangun pada abad ke –14. Di sinilah pergulatan kami pertama terjadi dengan sisa tenaga yang terkuras selama melalui daratan dan lautan, pergulatan mampu menseskresikan keringat pada batas nadirnya hingga kami seperti bayi yang bermandikan keringat. Merasakan setiap inchi kulitnya, dan apa-apa pada tubuhnya. Dan semuanya bermuara pada rasa yang semakin membesar.
Sejak pergulatan selama dua jam di castil tersebut, ia telah seringkali mengatakan bahwa ia mencintaiku. Bahkan ia mencintai apa-apa yang kumiliki. Meski apa-apa yang kumiliki kerap menjadi hal yang terutamakan dibanding dengannya. Ia selalu bilang bahwa ia hadir setelah apa yang kumiliki sekarang, jadi ia memang semestinya lebih tidak berhak dari apa-apa yang telah kumiliki. Dan akupun telah mengatakan mencintainya melalui pesan singkat, mengatakan padanya bahwa aku tak ingin berpisah darinya. Aku sampaikan apa yang aku rasa saat itu karena aku memang mencintainya.
Dan pada suatu kali, aku telah menjanjikan padanya untuk menuju Rapolano Terme di Italia. Daerah yang kesemuanya seperti lukisan. Aku katakan padanya bahwa aku akan membawanya terbang melewati Bandara Leonardo da vinci, Roma. Kemudian sambil terbang menikmati hawa sejuk 16 derajat selsius, kami akan menikmati bau lahan pertanian yang siap ditanami anggur dan pohon zaitun. Dan ia seperti ia selalu, menyampaikan bahwa ia sangat bergembira dengan semua yang aku janjikan. Kemudian ia menjanjikan untuk membawakanku mantel tebal dari bulu angsa, permen peppermint penghangat tenggorokan dan lain-lain kebutuhan. Aku pun telah siap untuk kepergian kami itu.
Dan jalan hidup memang tak pernah terduga. Pada hari yang sama ketika kami telah berjanji untuk terbang, seseorang yang pernah mengisi hidupku sebelum ia datang, kini datang dengan keindahan tiada tara dengan dua sayap yang bertelekan permata. Ia menawariku untuk terbang menuju semua tempat dimana keajaiban dunia berada, dari Borobudur yang sejengkal, kemudian menara Pisa di roma, dan berakhir di Taj Mahal. Dan aku, mungkin seperti juga yang lain, telah menyerah untuk tergoda bersamanya. Terlebih makhluk yang kini menawariku adalah makhluk indah yang pernah mengisi hatiku. Aku terkaburkan, hendak apa yang kubilang pada ia yang telah bersiap ke Rapolano Terme. Aku telah lebih tertarik pada seseorang yang kini ada di depanku. Dan kemudian aku memilih menuju keajaiban dunia, meninggalkan ia dalam kesendirian. Tak perduli dengan ia yang telah mempersiapkan perjalanan ke Rapolano Terme yang saat ini tengah bersama kesendirian.
Tentang kesendirian ia pernah bercerita bahwa kesendirian adalah kekasih terindah sepanjang masa sebelum diriku tiba. Kesendirian adalah sosok yang sedia dimana pun ia membutuhkannnya, kesendirian adalah awan dan hujan, mendung dan kabut dan ia seringkali meracap dalam kesendiriannya. Ia begitu bersemangat ketika bercerita tentang kekasihnya itu. Namun ketika ia bertemu denganku di malam yang aku dan dirinya luka patah pada sayap, segalanya menjadi berubah tiba-tiba, ia yang bilang bahwa diriku adalah angannya yang hampir bermuara di laut, kesejukan pada senja di puncak bukit. Dan ia yang pemalu, terus menatapku dan menyentuhi jariku pada saat-saat dimana aku mengijinkannya untuk melakukan sesuatu yang lebih dari semua itu. Dan ia yang pemalu yang awalnya menawariku sebuah persahabatan, karena ia merasa hatinya telah tertambat pada kesendirian, tapi aku yang bilang padanya untuk lebih dari sekedar persahabatan dan sejak itu ia memang telah lebih dari sahabat bagiku.
Meski bagiku ia adalah pengabdian total, tapi jujur ritme hatiku, tak selalu menuju padanya entah mungkin karena memang ia juga memiliki kekurangan, atau memang takdirku untuk memikirkan hal lainnya selain ia dan pengabdiannya. Tapi, sejak aku mengenalnya, meski dengan sayap yang patah, kutahu bahwa ritme hatinya terus menanjak bagai bukit tanpa kabut pada siang tanpa temaran sinar mentari tertahan awan daratan tinggi. Tapi bila saja, aku telah memikirkan dirinya, aku tak ragu untuk mengatakan bahwa aku telah berdoa pada tuhan untuk tak memisahkannya dengan ku, memujinya dengan segala kelebihan yang faktanya ia punya, atau memanggilnya pada tengah malam, tapi, entahlah mungkin cinta memang terlalu misterius untuk dirasakan.
Dan, pada akhirnya aku terbang dengan dua sayapku, bersama bidadari lain yang juga bersayap dua, mengitari bumi menuju mayapada dimana keajaiban dunia berada, meninggalkan ia sendiri. Pada malam. Pada senja. Dan badai, mendung, kilatan terus bergemuruh, aku tahu ia pasti telah tersiksa. Ia pasti akan membuat puisi-puisi untukku.
Dan dari kejauhan aku merasai bahwa ia terus merindukanku karena mendung telah begitu dalam, tapi keajabian dunia telah menjadi magnet besar, juga seseorang yang kini telah terbang disampingku dengan sayap yang bertelekan permata. Aku terus mengembara, terbang lepas menuju segala keajaiban.
Sekembaliku, kutemukan jejak air mata pada semua tempat dimana dulu kami bersua, pada café-café di katajanoka, pada café Rasa di Senggigi, pada sisi pantai di Rio de Jenairo, pada pantai cofa cabana. Entah kemana ia, semuanya seperti telah tertelan bumi. Semuanya yang kutemui hanyalah jejak yang penuh dengan luka. Dan di satu rumah makan di Jakarta, tempat candle light pertama kami, tertulis sebuah puisi dengan inisial namanya dengan namaku.
Kalau bahu lapukmu tak sanggup
Memanggul beban hidup
Sandarkan deritamu, sandarkan
Pada lengan lembut langit
Pada dada lapang bintang-bintang
Hampir semua tempat kujelajahi dan aku sampai pada kesimpulan bahwa ia telah memaksa pergi menuju Rapolano Terme, tapi bagaimana mungkin, ia hanya memiliki sebelah sayap, sayap satunya telah patah dan belum pulih, bagaiamana mungkin ia terbang sejauh ini. Khawatirku atas dirinya menggunung dan aku tak bisa tidak memikirkannya, dan atas kekahawatiran itu aku terbang menyusulnya.
Di Serre Rapolano, dekat kompleks musium Grancia. Aku dan dia telah berada di sebuah meja makan besar khas abad pertengahan. Ia nampak layu dan kurus. Hidangan telah tersedia; Fagottino repieno, (ayam bumbu jeruk) Minestra di piselli, (sup kacang polong) biancomangiare (nasi ayam muda).
Maafkan saya, kataku
Ia masih tertunduk, pun ketika menatapku, tatapannya hampa
Aku adalah manusia yang menyerupai burung, dengan sayapku kupikir aku bisa terbang kemanapun aku suka.
Ia tetap terdiam, matanya berkaca
Bukan salahmu, jika engkau ingin menangis,..menangislah, airmata tercipta untuk menjadi pelepas gundah.
Ia hanya berkaca tak menangis
Sejak awal, aku hanya ingin persahabatan, Jawabnya datar
Tiba-tiba iringan arakan mengelilingi kami berdua, maialino di cinta sinese (daging babi panggang) akan disiapkan, dan dengan lantang setengah berteriak aku bilang. We don’t eat fork, maka arakan terhenti dan salah seorang yang pastinya kepala koki menghampiri kami, menundukan badannya berkali-kali, sambil meminta maaf dengan setulus-tulusnya.
Maafkan,..bila aku telah menyulitkanmu,..katanya
Cinta ini yang sebegitu besar adalah akumulasi dari rasa cinta yang hadir sebelum-sebelumnya yang tak pernah termuarakan. Maaf jika ia seperti gelombang yang terus menerpa hadirmu..maafkan.
Saya tahu dengan segala kekuranganku, engkau berhak memilih siapa-siapa yang menjadi teman terbangmu, baik di kala sayapmu patah, maupun ketika engkau tak memiliki sebelah sayap yang patah.
Dengan sebelah sayap yang patah aku tak mampu bersamamu terbang mengunjungi keajaiban-keajaiban, aku cuma punya ini ia mendekapkan tangannya ke dadanya.
Aku cuma bisa mengabdi padamu, pada semua yang engkau miliki. Tapi bila semua itu telah membuatmu tak penuh, maafkan saya…
Kalau begitu pulang lah bersamaku kataku
Cinta bukanlah selalu masalah objek, jikapun engkau tidak ada di dekatku, aku masih tetap akan mampu mencintai, karena cinta itu adalah kemampuan, pulanglah,.biarkan aku di sini sendiri, menikmati wangi zaitun di kala panen, bau anggur yang baru saja diperas, menikmati hangatnya senja, sendiri saja, sampai nanti sebelah sayapku akan pulih, atau mungkin tidak sama sekali.
Tapi engkau akan benar-benar sendiri di sini. Aku mengiba
Lalu…..?, Aku telah sendiri berabad sebelum engkau datang..
Setelah itu tak ada lagi percakapan, ia terus menunduk, sepi, hanya terdengar tetes airmatanya jatuh di lantai marker. Aku kelu, gamang, aku telah menyakiti hatinya,
Aku memutuskan meninggalkannya. Kalaupun aku membiarkannya sendiri, itu karena aku melihat kesungguhannya meminta padaku untuk membiarkannya sendiri dan bukan karena aku tidak lagi mencintainya, meski pada saat yang sama aku juga masih mencintai seseorang yang lain.
Aku pulang sendiri, ada luka yang baru saja tergores. Tapi apa yang bisa aku lakukan, ia adalah pemilik jiwanya, pun apa yang bisa aku janjikan padanya, cinta yang sebesar cintanya padaku,..aku masih punya bidadari dan kekasih yang menemaniku baik saat sayapku patah pun ketika sayapku tak lagi patah. Dan aku terbang melewati, lautan dan samudra, kembali ke Jakarta. Sambil sesekali mengingatnya, mengingat apa-apa yang telah ia tunjukan, apa apa yang ia telah lakukan dan apa apa yang ia telah berikan. Namun toh ia telah menetap di Rampolano Terme, tempat terindah dimana kesendirian berasal. Jadi kubiarkan ia bersama kekasihnya seperti juga kini aku telah bersama kekasihku.
Sejak pertemuan kami di senggigi kami telah saling mengenal jauh, Ia adalah burung dengan sayap yang patah ketika aku temukan. Dari semuanya ia, aku telah tertarik dan ingin memilikinya penuh karena ia burung mawar; rekahnya indah, terbangnya indah. Ia mampu melayari awan dengan putih hati.
Aku telah memperkenalkan padanya diriku saat itu sebagai apa yang aku rasai diriku saat itu. Sebagai burung yang juga patah sayapnya, sayapku luka sepanjang waktuku. Kami menemukan banyak kemiripan kesukaan. Ia menyampaikan bahwa ia ingin sepertiku, atas kisah-kisah yang aku alami, atas apa-apa yang telah kumiliki.
Maka kemudian kamipun terbang berdua melayari awan, dan laut. Kami kini telah menjadi pasangan burung yang patah sayapnya. Kami terbang dengan masing-masing satu sayap terkepak, sementara satu sayap lainnya kami rangkulkan satu sama lain. Saat terbang, kami tak pernah melihat ke depan, kami hanya saling menatap satu sama lain, melarutkan hati dan tak terasa laut Jawa, selat Sunda, selat Lombok semuanya terseberangi. Berdua.
Suatu kali kami pernah mengunjungi sebuah castil di daratan Italia, Piazza del castilo yang dibangun pada abad ke –14. Di sinilah pergulatan kami pertama terjadi dengan sisa tenaga yang terkuras selama melalui daratan dan lautan, pergulatan mampu menseskresikan keringat pada batas nadirnya hingga kami seperti bayi yang bermandikan keringat. Merasakan setiap inchi kulitnya, dan apa-apa pada tubuhnya. Dan semuanya bermuara pada rasa yang semakin membesar.
Sejak pergulatan selama dua jam di castil tersebut, ia telah seringkali mengatakan bahwa ia mencintaiku. Bahkan ia mencintai apa-apa yang kumiliki. Meski apa-apa yang kumiliki kerap menjadi hal yang terutamakan dibanding dengannya. Ia selalu bilang bahwa ia hadir setelah apa yang kumiliki sekarang, jadi ia memang semestinya lebih tidak berhak dari apa-apa yang telah kumiliki. Dan akupun telah mengatakan mencintainya melalui pesan singkat, mengatakan padanya bahwa aku tak ingin berpisah darinya. Aku sampaikan apa yang aku rasa saat itu karena aku memang mencintainya.
Dan pada suatu kali, aku telah menjanjikan padanya untuk menuju Rapolano Terme di Italia. Daerah yang kesemuanya seperti lukisan. Aku katakan padanya bahwa aku akan membawanya terbang melewati Bandara Leonardo da vinci, Roma. Kemudian sambil terbang menikmati hawa sejuk 16 derajat selsius, kami akan menikmati bau lahan pertanian yang siap ditanami anggur dan pohon zaitun. Dan ia seperti ia selalu, menyampaikan bahwa ia sangat bergembira dengan semua yang aku janjikan. Kemudian ia menjanjikan untuk membawakanku mantel tebal dari bulu angsa, permen peppermint penghangat tenggorokan dan lain-lain kebutuhan. Aku pun telah siap untuk kepergian kami itu.
Dan jalan hidup memang tak pernah terduga. Pada hari yang sama ketika kami telah berjanji untuk terbang, seseorang yang pernah mengisi hidupku sebelum ia datang, kini datang dengan keindahan tiada tara dengan dua sayap yang bertelekan permata. Ia menawariku untuk terbang menuju semua tempat dimana keajaiban dunia berada, dari Borobudur yang sejengkal, kemudian menara Pisa di roma, dan berakhir di Taj Mahal. Dan aku, mungkin seperti juga yang lain, telah menyerah untuk tergoda bersamanya. Terlebih makhluk yang kini menawariku adalah makhluk indah yang pernah mengisi hatiku. Aku terkaburkan, hendak apa yang kubilang pada ia yang telah bersiap ke Rapolano Terme. Aku telah lebih tertarik pada seseorang yang kini ada di depanku. Dan kemudian aku memilih menuju keajaiban dunia, meninggalkan ia dalam kesendirian. Tak perduli dengan ia yang telah mempersiapkan perjalanan ke Rapolano Terme yang saat ini tengah bersama kesendirian.
Tentang kesendirian ia pernah bercerita bahwa kesendirian adalah kekasih terindah sepanjang masa sebelum diriku tiba. Kesendirian adalah sosok yang sedia dimana pun ia membutuhkannnya, kesendirian adalah awan dan hujan, mendung dan kabut dan ia seringkali meracap dalam kesendiriannya. Ia begitu bersemangat ketika bercerita tentang kekasihnya itu. Namun ketika ia bertemu denganku di malam yang aku dan dirinya luka patah pada sayap, segalanya menjadi berubah tiba-tiba, ia yang bilang bahwa diriku adalah angannya yang hampir bermuara di laut, kesejukan pada senja di puncak bukit. Dan ia yang pemalu, terus menatapku dan menyentuhi jariku pada saat-saat dimana aku mengijinkannya untuk melakukan sesuatu yang lebih dari semua itu. Dan ia yang pemalu yang awalnya menawariku sebuah persahabatan, karena ia merasa hatinya telah tertambat pada kesendirian, tapi aku yang bilang padanya untuk lebih dari sekedar persahabatan dan sejak itu ia memang telah lebih dari sahabat bagiku.
Meski bagiku ia adalah pengabdian total, tapi jujur ritme hatiku, tak selalu menuju padanya entah mungkin karena memang ia juga memiliki kekurangan, atau memang takdirku untuk memikirkan hal lainnya selain ia dan pengabdiannya. Tapi, sejak aku mengenalnya, meski dengan sayap yang patah, kutahu bahwa ritme hatinya terus menanjak bagai bukit tanpa kabut pada siang tanpa temaran sinar mentari tertahan awan daratan tinggi. Tapi bila saja, aku telah memikirkan dirinya, aku tak ragu untuk mengatakan bahwa aku telah berdoa pada tuhan untuk tak memisahkannya dengan ku, memujinya dengan segala kelebihan yang faktanya ia punya, atau memanggilnya pada tengah malam, tapi, entahlah mungkin cinta memang terlalu misterius untuk dirasakan.
Dan, pada akhirnya aku terbang dengan dua sayapku, bersama bidadari lain yang juga bersayap dua, mengitari bumi menuju mayapada dimana keajaiban dunia berada, meninggalkan ia sendiri. Pada malam. Pada senja. Dan badai, mendung, kilatan terus bergemuruh, aku tahu ia pasti telah tersiksa. Ia pasti akan membuat puisi-puisi untukku.
Dan dari kejauhan aku merasai bahwa ia terus merindukanku karena mendung telah begitu dalam, tapi keajabian dunia telah menjadi magnet besar, juga seseorang yang kini telah terbang disampingku dengan sayap yang bertelekan permata. Aku terus mengembara, terbang lepas menuju segala keajaiban.
Sekembaliku, kutemukan jejak air mata pada semua tempat dimana dulu kami bersua, pada café-café di katajanoka, pada café Rasa di Senggigi, pada sisi pantai di Rio de Jenairo, pada pantai cofa cabana. Entah kemana ia, semuanya seperti telah tertelan bumi. Semuanya yang kutemui hanyalah jejak yang penuh dengan luka. Dan di satu rumah makan di Jakarta, tempat candle light pertama kami, tertulis sebuah puisi dengan inisial namanya dengan namaku.
Kalau bahu lapukmu tak sanggup
Memanggul beban hidup
Sandarkan deritamu, sandarkan
Pada lengan lembut langit
Pada dada lapang bintang-bintang
Hampir semua tempat kujelajahi dan aku sampai pada kesimpulan bahwa ia telah memaksa pergi menuju Rapolano Terme, tapi bagaimana mungkin, ia hanya memiliki sebelah sayap, sayap satunya telah patah dan belum pulih, bagaiamana mungkin ia terbang sejauh ini. Khawatirku atas dirinya menggunung dan aku tak bisa tidak memikirkannya, dan atas kekahawatiran itu aku terbang menyusulnya.
Di Serre Rapolano, dekat kompleks musium Grancia. Aku dan dia telah berada di sebuah meja makan besar khas abad pertengahan. Ia nampak layu dan kurus. Hidangan telah tersedia; Fagottino repieno, (ayam bumbu jeruk) Minestra di piselli, (sup kacang polong) biancomangiare (nasi ayam muda).
Maafkan saya, kataku
Ia masih tertunduk, pun ketika menatapku, tatapannya hampa
Aku adalah manusia yang menyerupai burung, dengan sayapku kupikir aku bisa terbang kemanapun aku suka.
Ia tetap terdiam, matanya berkaca
Bukan salahmu, jika engkau ingin menangis,..menangislah, airmata tercipta untuk menjadi pelepas gundah.
Ia hanya berkaca tak menangis
Sejak awal, aku hanya ingin persahabatan, Jawabnya datar
Tiba-tiba iringan arakan mengelilingi kami berdua, maialino di cinta sinese (daging babi panggang) akan disiapkan, dan dengan lantang setengah berteriak aku bilang. We don’t eat fork, maka arakan terhenti dan salah seorang yang pastinya kepala koki menghampiri kami, menundukan badannya berkali-kali, sambil meminta maaf dengan setulus-tulusnya.
Maafkan,..bila aku telah menyulitkanmu,..katanya
Cinta ini yang sebegitu besar adalah akumulasi dari rasa cinta yang hadir sebelum-sebelumnya yang tak pernah termuarakan. Maaf jika ia seperti gelombang yang terus menerpa hadirmu..maafkan.
Saya tahu dengan segala kekuranganku, engkau berhak memilih siapa-siapa yang menjadi teman terbangmu, baik di kala sayapmu patah, maupun ketika engkau tak memiliki sebelah sayap yang patah.
Dengan sebelah sayap yang patah aku tak mampu bersamamu terbang mengunjungi keajaiban-keajaiban, aku cuma punya ini ia mendekapkan tangannya ke dadanya.
Aku cuma bisa mengabdi padamu, pada semua yang engkau miliki. Tapi bila semua itu telah membuatmu tak penuh, maafkan saya…
Kalau begitu pulang lah bersamaku kataku
Cinta bukanlah selalu masalah objek, jikapun engkau tidak ada di dekatku, aku masih tetap akan mampu mencintai, karena cinta itu adalah kemampuan, pulanglah,.biarkan aku di sini sendiri, menikmati wangi zaitun di kala panen, bau anggur yang baru saja diperas, menikmati hangatnya senja, sendiri saja, sampai nanti sebelah sayapku akan pulih, atau mungkin tidak sama sekali.
Tapi engkau akan benar-benar sendiri di sini. Aku mengiba
Lalu…..?, Aku telah sendiri berabad sebelum engkau datang..
Setelah itu tak ada lagi percakapan, ia terus menunduk, sepi, hanya terdengar tetes airmatanya jatuh di lantai marker. Aku kelu, gamang, aku telah menyakiti hatinya,
Aku memutuskan meninggalkannya. Kalaupun aku membiarkannya sendiri, itu karena aku melihat kesungguhannya meminta padaku untuk membiarkannya sendiri dan bukan karena aku tidak lagi mencintainya, meski pada saat yang sama aku juga masih mencintai seseorang yang lain.
Aku pulang sendiri, ada luka yang baru saja tergores. Tapi apa yang bisa aku lakukan, ia adalah pemilik jiwanya, pun apa yang bisa aku janjikan padanya, cinta yang sebesar cintanya padaku,..aku masih punya bidadari dan kekasih yang menemaniku baik saat sayapku patah pun ketika sayapku tak lagi patah. Dan aku terbang melewati, lautan dan samudra, kembali ke Jakarta. Sambil sesekali mengingatnya, mengingat apa-apa yang telah ia tunjukan, apa apa yang ia telah lakukan dan apa apa yang ia telah berikan. Namun toh ia telah menetap di Rampolano Terme, tempat terindah dimana kesendirian berasal. Jadi kubiarkan ia bersama kekasihnya seperti juga kini aku telah bersama kekasihku.
Ragu
Pada tirus wajahmu dan kurus tubuhmu semalam
Aku ingin memeluk dirimu
membalutmu dengan kebahagiaan
Hingga wajahmu kembali membulat, tubuhmu menggempal
Tak ada yang lebih kuinginkan darimu
Kecuali engkau membiarkan aku membahagiakanmu
Membahagiakan peri dan malaikat mu
Mengumpulkan kalian dalam cawan kemesraan
Tapi, setiap wajah tirusmu berlalu
Hadirmu tergantikan dengan penghianatan yang berulang
Yang telah mengiris ruas-ruas hatiku dengan sisi pandan berduri
Yang telah mencabik hatiku remah, hingga terbang di mulut camar laut selatan
Dan setiap hadirmu tergantikan
Aku ragu mampukan aku membahagiankamu dalam hati yang kalut berdarah
Dan setiap hatiku kalut berdarahAku ragu mampukah aku hidup tanpa bisa membahagiakanmu
Aku ingin memeluk dirimu
membalutmu dengan kebahagiaan
Hingga wajahmu kembali membulat, tubuhmu menggempal
Tak ada yang lebih kuinginkan darimu
Kecuali engkau membiarkan aku membahagiakanmu
Membahagiakan peri dan malaikat mu
Mengumpulkan kalian dalam cawan kemesraan
Tapi, setiap wajah tirusmu berlalu
Hadirmu tergantikan dengan penghianatan yang berulang
Yang telah mengiris ruas-ruas hatiku dengan sisi pandan berduri
Yang telah mencabik hatiku remah, hingga terbang di mulut camar laut selatan
Dan setiap hadirmu tergantikan
Aku ragu mampukan aku membahagiankamu dalam hati yang kalut berdarah
Dan setiap hatiku kalut berdarahAku ragu mampukah aku hidup tanpa bisa membahagiakanmu
Langganan:
Komentar (Atom)