Senin, 29 Maret 2010

Aku tak marah padamu

Aku tak pernah cemburu kau memilih orang lain
Aku sadar, aku tak kan mampu diperbandingkan dengan puluhan orang
Aku hanya menyesalkan tujuh purnama berlalu jauh dari harapku
Mungkin tak sepenuhnya salahmu
Aku yang terlalu emosi mencinta
Hingga tak lagi nalarku terlibat

Baru kutahu Engkau jauh dari berhak atas cintaku
Tapi, Engkau telah sita waktuku
Hingga aku tak lagi mungkin merasakan cinta sejati
Cinta dalam puisi dan kisah yang kutulis untukmu
Yang engkau bilang menyukainya
Mungkin karena engkau bisa mentertawakan kenaifan kisah cinta yang kuimpikan

Aku tak pernah marah padamu karena kau memilih orang lain
Aku hanya marah atas diriku yang begitu bodoh menerimamu

Hatiku tak lagi berdarah

Mengapa tak kau tinggalkan saja diriku
Jika hanya ingin kau toreh luka baru

Untukmu ketahui,
Hatiku tak lagi punya darah yang mengalirkan rasa sakit
Tak guna kau bujuk aku untuk mempercayaimu lagi
Untuk kemudian kau lukai lagi
Karena hatiku tak lagi punya darah

Ini bukan puisi untukmu

Aku rindu menulis puisi
Merangkai kata paling romantis sedunia
Seperti dulu kerap aku lakukan untukmu

Tapi tidak kini,
Aku ingin menulis sebanyak puisi
bukan untukmu
Karena puisi yang kutulis murni dari hatiku
Tak pernah berarti apa-apa untukmu
Bahkan, kau hempas semuanya

Hingga tahunan hatiku bisu berpuisi
tak bertenaga menulis satu katapun
Hanya mampu membaca remah puisi yang tak berarti apa-apa buatmu

Aku akan menulis sejuta puisi
Hingga tumpah semua rasaku
Tapi tak kan kutulis sebait puisi pun untukmu
Tak kan pula berguna kugarami air selautan

Jumat, 26 Maret 2010

Hatiku Belah

Hatiku masih belah berantakan. Seperti didera gempa dadakan. Retak-retak tak beraturan.
Hatiku ternyata rapuh. Berdentum setiap detiknya seperti tak henti ditabuh.
Luluh bergemuruh. Ledak berkeredap. Lalu belah berantakan.

Senin, 01 Februari 2010

Birthday at Bromo Part 2

Perjuangan belum selesai. Untuk sampai ke bibir Bromo, pengunjung harus menaiki anak tangga miring tajam. Rasanya mau mundur saja jika Simon dan anak perempuannya yang berumur 6 tahun tak ada di belakang saya menaiki anak tangga dengan semangat. Apalagi, di depan saya dalam arah pulang, ada seorang turis menggunakan kruk menuruni tangga tertatih. Ia pasti telah menaiki tangga yang sama seperti tangga yang saya naiki sekarang. Kalau dia yang cacat bisa, saya pasti bisa. Saya langsung memujinya, salut to you my man. Yang dipuji tersenyum dan memberi semangat saya untuk naik ke atas.

Dan saya akhirnya bisa sampai ke bibir Bromo. Kawah aktifnya tak henti mengeluarkan asap. Untung tak banyak uap belerang sehingga saya bisa berlama di sini, mengambil beberapa foto untuk diupload di facebook atau dikirimkan ke salah satu majalah ibukota atau untuk dikirimkan ke tim audisi take him out.

Puas dengan memandangi Bromo yang sedikit mengingatkan saya pada neraka kalau saya badung di dunia, saya merasa harus jujur kali ini. Tak ingin rasanya membohongi kustiawan dan pengangon kuda lainnya. Saya pun memilih untuk berjalan kaki pulang ke tempat hardtop kami di parkir. Letih, tapi tak ada pilihan. 4 Km lautan pasir menunggu di depan. Tapi, pemandangan sekitar Bromo tetap menjadi penghilang lelah yang ampuh.

Sampai di homestay pukul 8.30, rasanya dengkul ini butuh tambahan pelumas sekaligus tempurungnya. Beristirahat sebentar, Pak Hartono menjelaskan tempat-tempat lain yang bisa dikunjungi di sekitar Bromo. Saya tertarik. Ada pasir berbisik yang akan mengingatkan saya pada tempat pertemuan pertama saya dengan Dian Sastro. Di pasir berbisik inilah kami pertama kali bertemu. Dian di televisi sedang acting film pasir berbisik, saya di luar TV di sofa warna biru menyaksikan Dian melakoni anak suku tengger. Ada juga savanna, ranu pane dan coban pelangi. Di coban pelangi ini tempat shooting film reboundnya Tamara Blesynizki. Konon di film ini, Tamara rela diet ketat dan olah raga berat demi obral aurat.

Saya langsung bersemangat menelusuri kesemua tempat tersebut. Deal dengan salah satu tukang ojek kenalan Pak Hartono, 200 ribu bersih. Satu jam kemudian saya sudah siap mengarungi lautan pasir, bermain di savanna, ke ranu pane, cemoro lawang dan tembus ke Malang kota apel.

Perjalanan ruarr biasa. Melewati lautan pasir saya menjumpai beberapa warga tengger yang sedang mencari rumput. Wajah-wajah tanpa nafsu keduniawian. Kemudian saya menyempatkan mematung di savanna yang kata pengendara motor yang saya sewa seperti di teletubis. Entah karena pemandangannya atau karena pengunjungnya, saya maksudnya, yang membuat si tukang ojek mendapatkan ide tentang teletubis tersebut. Dari savanna yang menjadi rute para pendaki Semeru, Ion sang pengojek, mengantarkan saya melewati jalan yang kedua sisinya curam terjal. Sebelah kiri jurang, jurang di sebelah kanan. Tapi melewati perkampungan petani ranu pane membangunkan saya bahwa Indonesia memang harus mengembangkan agribisnis di negeri ini. Ini seperti apa yang ada di kepalanya Wati, Budi dan Iwan, sahabat waktu saya kecil yang saya kenal di buku paket.

Dari ranu pane, perjalanan menelusuri pemukiman warga tengger makin mengasikan. Ladang-ladang yang sedang disiangi berselimutkan kabut. Hawa dingin yang memberi kesejukkan membuat saya beberapa kali harus menepuk bahu Ion dan memintanya untuk mengambil gambar saya dengan gaya natural yang dibuat senatural mungkin. Next time kalau saya berniat ikut take him out, saya sudah punya banyak stok gambar.

Menuju coban pelangi, perjalanan harus membelah hutan hujan tropis. Berkilometer saya dan ion berboncengan tanpa bertemu seorangpun. Dan akhirnya saya sampai di coban pelangi. Ion hanya bisa mengantarkan saya ke gerbang loket, setelah itu saya menuruni bukit sampai di coban atau curug dalam bahasa sunda. Dalam perjalanan menuju coban saya bertemu banyak orang dan kesemuanya berpelukan mesra. Jangan-jangan coban ini memang untuk para pasangan. Bulu kuduk saya tiba-tiba merinding, saya seperti ditemani seseorang. Ayat kursi saya lantunkan, bulu kuduk saya mulai normal sambil terus berjalan menuju coban. Setelah turun naik licin kering daratan ditempuh, saya sampai juga di coban pelangi. Dengan tinggi kira-kira 50 meter, curug ini memiliki bentuk sempurna hanya saja aliran airnya tak cocok untuk mandi dan berendam. Alamnya masih terlalu liar dan tak ramah. Saya hanya bisa beristirahat sebentar, mengambil beberapa foto diri menggunakan kamera dan tangan sendiri, setelah itu kembali ke gerbang.

Dan benar saja, perjalanan kembali ke gerbang memerlukan energi yang jauh lebih berat. Saya sempat 5 kali beristirahat. Bulu kuduk saya kembali meremang di tempat pertama kali bulu kuduk saya berdiri. Lagi-lagi ayat kursi dilantunkan. Saya punya pengalaman mistis 14 tahun lalu di salah satu curug di bogor. Tak perlu lah saya ceritakan, nanti bisa jadi scenario film tamara berikutnya.

Sampai di gerbong Ion sudah siap mengantarkan saya ke Malang. Di gerbang ini juga saya bertemu dengan dua teman saya kemarin. Ternyata mereka terilhami oleh saya untuk juga mengunjungi tempat-tempat yang saya kunjungi, kecuali mereka mengurungkan keRanu Pane karena jalannya yang terjal. Beberapa menit kemudian kami konvoi melewati kebun-kebun apel yang buahnya baru saja menyembul. Beberapa sudah selesai panen dan masih tersisa, saya mampir sebentar memetik satu saja buahnya merasakan sensasi memetik apel langsung dari pohonnya, sensasi mimpi masa kecil.

Perjalanan 2 hari ini just about to end. Dari Terminal Malang saya naek bus menuju Bungurasih, 15 ribu saja, 2 jam perjalanan. Dari Bungurasih, saya naik taxi bertiga dengan mahasiswa Unibraw yang duduk di samping saya di bus. 50 ribu bertiga, 20 menit, sampai di Bandara Juanda pukul 17.45. Di Bandara Juanda, saya dikerubuti Calo tiket. Mereka tahu saya penumpang Go Show. Mereka menawarkan harga tiket 450 rb ke Jakarta. Saya selayak Tukul saat itu. Ndak mau tahu dan ngga mau denger para calo. Dari counter ke counter saya datangi untuk mencari tiket termurah dan terdekat jadwalnya dan pilihan itu jatuh pada Mandalaair. 508 ribu tanpa minum tanpa snack. Di ketinggian 33000 kaki saya kehausan dan terpaksa membeli jus apel 300 ml seharga 18 ribu.

Sampai di Jakarta pukul 19.45 WIB dengan nuansa baru. Matahari terbit di puncak bromo adalah saat saya menyadari bahwa masih akan ada keriangan baru dalam hidup saya. Tapi, saya juga harus berhati-hati melangkah. Jika tidak hidup hanya akan mencengkeram saya sewarna jingga kemerahan di puncak Pananjakan

Minggu, 31 Januari 2010

Birthday at Bromo Part 1

Bromo is a beautiful place. You will feel like somewhere in Scotland (don’t ask me whether I ve been there or not)

By flight I arrived at Juanda Airport Surabaya at 11.30. setelah kurang lebih 20 menit, saya sampai di terminal Bungurasih. Alhamdulillah, sejak tadi saya ingin muntah naik bis Damri dari bandara Juanda. Tersangka utamanya adalah goyangan bus yang seperti odong-odong. Anak kecil di samping saya saja sudah 180 derajat berubah, yang semula riang dengan es krim ditangan sampai pucat pasi menahan gubakan isi perutnya. Beda sama seorang wanita ngejreng di samping saya. Dengan dandanan menor dan kaca mata hitam, saya sempat mengintip anunya..upps maksudnya, pesan yang ia tulis di SMS-nya. Begini kalau tidak salah, Mas Bambang, kalau kita ketemuan kira-kira istri Mas Bambang marah, Nda..?? Duh, terpaksa sekali saya menduga bahwa wanita di sebalah saya ini adalah PRT di Jakarta yang kesepian karena suaminya jadi TKW di Malaysia kemudian mencoba mencari selingkuhan baru.

Sampai di Bungurasih, suara calo-calo menggema. Saya serasa Tio Pakusadewo, berakting seolah-olah Bungurasih bagian dari jajahan saya. Saya mendongak biar para calo tak curiga saya yang baru pertama kali memasuki areanya. Saya selamat sampai di bis AKAS menuju Jember. Setelah memastikan bus akan melewati terminal probolinggo, saya simpan tas rangsel besar saya di kursi sebelah, biar tak ada orang yang berani mendudukinya dan saya dengan legawa hanya membayar Rp. 23.000 sekali jalan

Sampai di Probolinggo kira-kira jam 4. Hmm hampir putus hati saya. Konon, angkot menuju Cemoro Lawang di pundak Bromo hanya sampai jam 4. Mungkin kalau tidak ada badai yang merobohkan pohon-pohon di sisi jalan Pasuruan dan membuat bus AKAS yang saya tumpangi tersendat-sendat, saya pasti sudah sampai probolinggo jam 3. Alhamdulillah, ternyata masih ada yang menawarkan angkot ke Bromo, dan alhamdulillahnya lagi di dalam angkot tersebut sudah ada sepasang muda-mudi – seusia saya maksudnya. Seorang berkebangsaan Nepal, seorang lagi berkebangsaan Medan. Tanya punya tanya, mereka telah menunggu penumpang lainnya, yaitu SAYA, tak kurang dari 3 jam. Meski sudah 3 orang di dalam angkot, sang supir bergeming. Dia bilang, rugi lah kalau Cuma mengangkut 3 orang dengan tarif normal 25 ribu per orang. Ia mulai bernegosisasi bagaimana kalau kami bertiga membayar renteng 250 rb. Sang pria berkebangsaan Nepal, marah besar. Dia berteriak dengan ingris logat Indianya, Why now, after 3 hours waiting. I will stand still, I will try to give him a pressure katanya pada sang perempuan pasangannya. Aku senyum kecil di hati. Duuh pressure, Bandeng kali di pressure…

Akhirnya dengan berolah menjadi penengah aku bisa membuat angkot itu berangkat. 60 ribu seorang. Everyone deal, everyone happy but the Nepal Guy. Dan perjalanan menuju cemoro lawang ternikmati jauh lebih indah dari perjalanan ke puncak jawa barat. Alam yang bersahabat di dataran tinggi jawa timur itu masih perawan, rumah-rumah sederhana dikelilingi ladang kubis atau wortel. Ada banyak kabut yang bermain petakumpet di pekarangan rumah dan ladang. Sejuk yang menyejukkan dan dingin yang menghangatkan. Hmmm suatu saat saya ingin tinggal di salah satu rumah itu barang sebulan.

Sampai di cemoro lawang hampir jam 6. Sepi. Di sini, Kehidupan berakhir di jam 6 sore. Senyap, nanti agak malam sedikit akan ada lantunan suara mirip suara zikir dari pengeras suara mushola. Saya sempat bingung, para penduduk cemoro lawang mayoritas beragama Hindu, bagaimana mungkin ada Mushola yang melantunkan zikir dengan pengeras suara. Selidik punya selidik, ternyata pujian pada sang kholik dilantunkan dengan cara yang sama antara muslim dan pemeluk hindu di ranah jawa ini.

Hotel yang pertama dituju adalah hotel cemara indah. Hotel yang direkomendasikan banyak pengguna internet sekaligus hotel dimana angkot ke cemoro lawang berhenti. Pemandangannya luar biasa. Hotel Cemara Indah, terletak di sisi tebing yang menampilkan panorama lautan pasir, Bromo dan gunung Batok. Tapi, pemandangan itu hanya untuk kamar dengan rate 300 ribu. Untuk kamar yang ratenya 100 ribu, cukup dengan pemandangan bunga-bunga ranum merah muda dari gorden kain katun.

Akhirnya, mengikuti usulan supir angkot, saya dan kedua teman baru saya diantar ke homestay milik Pak Hartono persis di sebelah hotel cemara indah. 100 ribu untuk kamar yang jauh lebih layak dari kamar hotel cemara indah. Tak apalah. Toh di kamar ini tak kan ada aktivitas selain tidur.

Yah, memang tak akan ada aktivitas selain tidur. Di Homestay tak ada televisi, colokan listrik saja tak ada. Laptop yang saya bawa dari rumah dengan khayalan bisa menulis cerita sebagus laskar pelangi harus tetap dimatikan. Mau nyolokin listrik kemana?. Pun, dinginnya udara menusuk kalbu. Kasurnya pun menusuk otot. Kasur yang disediakan sama sekali tak memiliki daya membal. Tubuhku yang 85 Kg ini melesap dalam kasur tipis yang membusuk karena hawa dingin dataran tinggi Bromo ini. Tidur yang tak melelapkan. Jam 3.15, saya terbangun dari tidur tak lelap saya dikarenakan pegal otot tubuh yang kaku karena dingin udara dan lembab kasur melebihi ambang batas. Segelas Moccachino yang saya bawa dari rumah cukup menjadi pelipur lara dalam dingin udara pagi itu. Tapi, ketika mocahino tandas di bibir saya yang beku, saya segera mengenakan kupluk, syal dan sarung tangan. Keluar dari ruangan, saya serasa di New Zealand (again, don’t try to ask me whether saya udah kesana or not, TABU). Udara yang keluar dari hidung saya membentuk uap putih. Saya menikmati 10 menit sendiri di sepi cemoro lawang, hanya berteman uap putih dari mulut dan hidung saya. Setelah Pak Hartono mengetuk pintu para penghuni homestay yang lain, beberapa diantaranya kemudian bergabung bersama saya di halaman homestay. Salah satunya Mr. Takeshi, Japanese who had been travel around Indonesia for this 2 month. Dengan enggurisunya yang dame, dia berani traveru to java ne. Murai Bangdung, Soro, semarang, Surabaya dan Bromo, pake basu. Setelah itu, katanya dia mau ke Bali, lanjut ke giri airu. Syahdan, orang jepang lebih seneng giri airu daripada giri trawangan.

Jam 4, hardtop yang kami pesan seharga 100 rb per orang ke supir angkot tadi siang sudah menjemput. Saya dan dua teman saya satu angkot tadi sore langsung berada di satu hardtop. Takeshi memilih menggunakan motor ke puncak pananjakan yang suhunya mungkin 10 derajat. Tambah kagum aja saya sama nyali tuh orang. Dia juga bilang, nanti pulangnya dia akan jalan kaki dari Bromo, swimming in the ocean of sand, saya berseloroh. Dia tertawa, tapi saya tahu dia ngga ngerti maksudnya, mungkin saya harus merubah aksen ingris amerika saya sedikit. Anata wa swiminngu on e osiang of sanu desu.

Hardtop saya yang telah berisi tiga orang harus menjemput tiga orang penumpang lainnya. Satu keluarga dari Australia. Mariza, Simon dan their daughter. Tak banyak perbincangan di hardtop. Selain udara masih membeku, goyangan hardtop yang melewati jalan terjal menuju puncak pananjakan membuat kami harus berpegang teguh pada apapun yang bisa dipegang. Sampai di puncak jam 5 lewat, sudah ada lebih dari seratus orang berebut mencuri awal matahari terbit di sisi tempat yang telah disediakan. Kami termasuk yang terakhir tiba sehingga kami hanya bisa berdiri di belakang. Tapi cukuplah melihat matahari terbit sebagus itu. Terlebih ini adalah awal hari baru buat saya karena pagi itu bertepatan dengan satu hari sebelum usia saya genap sekian sekian. Actually this travel is a special birthday gift for me from myself.

Cuma 40 menit kami menikmati matahari terbit dari puncak bukit. Dari lautan cumulus nimbus di kejauhan, jingga matahari menyuarakan keriangan sekaligus kengerian. Seperti hidup setiap harinya, selalu menyediakan keriangan dan kengerian bergantian bahkan kadang bersamaan. Setelah dari pananjakan, hardtop kembali menuruni bukit dan menuju lautan pasir. Di tengah lautan pasir itu ternyata kami diturunkan karena dari sana kami harus berjalan sekitar 3 Km kemudian menaiki anak tangga 45 derajat kemiringan untuk sampai di bibir Bromo. Saya memilih paket mudah. Menggunakan kuda yang dibayar menggunakan voucher seharga 50 rb. Sempat saya berbohong sama sang pengangon kuda yang saya naiki. Kustiawan, sang pengangon dengan halus bilang ke saya, Mas Beratnya berapa? Saya yang sensitif terhadap pertanyaan tentang berat, balik bertanya. Memangnya kenapa Kus? Kuda ini maksimal menganggkut penumpang dengan berat 80 Kg. Saya menjawab halus, ooh saya beratnya 80 Kilo ko..kustiawan tersenyum, entah mengiyakan atau ia tak mau menampik rezeki. Tapi kata-kata Kustiawan berikut membuat saya ketar ketir. Iya Pak, kalau di atas 80 Kg kudanya akan berhenti di tengah jalan mendaki nanti..kustiawan menjawab pertanyaan saya berikutnya, hati saya mulai dagdigdug.

Kuda berjalan tertatih. Tubuh saya yang baru pertama kali menaiki kuda, kaku. Beberapa kali saya hampir terjatuh. Setelah setengah perjalanan baru saya tahu tipsnya menaiki kuda. Saya teringat pengalaman Jack Scully di Avatar, the key is connection. Jadilah saya elus-elus pundak sang kuda dan merasakan kenyamanan berada di pundaknya. Tubuh saya meluruh dinamis mengikut gerak tapak kuda menaiki jemari Bromo. Saya serasa terbang meliuk diantara floating islands di Planet of Pandora

(berlanjut.....)

Senin, 02 November 2009

Nila Setitik, Rusak Air Susu Dibalas Air Tuba Sebelanga

Jika kita menjadi korban Air Susu dibalas Air Tuba, kita punya banyak pilihan untuk membalas pelaku. Cara paling emosional adalah membalaskan sakit hati dengan menambahkan Nila di air tuba yang telah bercampur air susu. Biar rusak sekalian air susu sebelanga-nya. Air tuba dan Nila serupa tapi tak sama. Air tuba dibuat dari akar-akaran yang biasa digunakan orang-orang zaman dulu untuk meracuni ikan. Sedangkan Nila adalah ekstrak dari pohon perdu bernama sama, berwarna indigo dengan daya racun yang sama kuat. Nila untuk air tuba berarti membalas kebencian dengan kebencian. Nila dan air tuba sama-sama beracun, sama merugikan. Satu-satunya yang kita dapat dari cara ini adalah kelegaan emosi, dan itu juga beracun.

Cara lainnya adalah membuang-hilangkan air susu yang telah bercampur air tuba. Seluruhnya. Hingga hilang kebaikan, hilang keburukan. Mulai segala sesuatunya dari nol. Ini tentu bukan hal yang mudah. Terlebih otak kita didesain untuk tidak mudah lupa, meski sadar kita lupa, tapi otak bawah sadar kita menyimpannya untuk kemudian diingatkan kembali jika ada pemicu.

Cara yang paling ekstrim sulitnya dan merupakan tingkatan emosi tertinggi untuk membalas “air tuba membalas air susu” adalah menambahkan air susu sebanyak-banyaknya sebanyak-banyaknya. Tambahkan air susunya sebanyak mungkin hingga air tuba tak lagi punya dampak meracuni. Sulitnya, kita tidak tahu sampai berapa banyak air susu yang harus kita berikan agar tuba yang ada tak lagi punya taji. Puluhan kali bahkan ratusan kali lipat banyaknya air susu yang dibutuhkan, begitu juga dibutuhkan kebaikan yang sedemikian banyak untuk menetralkan keburukan orang lain.

Ekstrim sulitnya memang. Tapi, seorang rekan kerja saya pernah bercerita tentang pembantu rumahnya. Sang pembantu, ibu akhir empat puluhan, meratau ke Jakarta menjadi pembantu meninggalkan suami, anak dan tanah ibu. Mencuci baju sepatu, memasak nasi dan menumis bumbu. Ia lakukan semua karena sang suami di kampung bekerja tak menentu. Belasan tahun ia memeras keringat agar anak dan suaminya bisa makan layak mutu. Sampai suatu ketika ia menerima kabar bahwa sang suami telah menemukan wanita baru. Sang suami membela diri, ia tak tahan menahan nafsu. Sang pembantu pilu, kini ia telah dimadu. Perasaan sang pembantu tak menentu. Hatinya selayak diiris sembilu, seperti dibelah pandan berduri mundur maju. Hidupnya kemudian berantakan tak menentu. Hidup layu mati tak mau.

Berbulan ia selayak hantu, sampai kemudian ia memandang masalahnya dengan cara baru. Ia kembali ke kampung mendatangi suami dan sang madu. Memberikan tabungan hasilnya menjadi pembantu. Kepada suami, anak dan sang madu. Sang pembantu menemukan gairah baru. Ia tahu, ia lebih baik dari suami dan sang madu dengan mampu mengalahkan emosi diri yang menderu. Ia bilang ia akan mencoba membalas perlakuan sang suami yang tak tahu malu dengan kebaikan seputih air susu. Sebanyak yang ia mampu.

Ekstim sulitnya memang. Tapi jika seorang pembantu mampu. Saya juga pasti mampu. Asal saya mau.